Laga Akbar Barcelona vs Bayern Munich dan Cerita Goliat di Gdanks Warsawa

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemain Bayern Munchen mengangkat pelatih mereka, Hansi Flick saat merayakan kemenangannya dalam Piala Jerman di Olympiastadion, Berlin, 4 Juli 2020. Kemenangan ini membawa Bayern mengoleksi dua gelar pada musim 2019/2020, setelah pertengahan Juni lalu memastikan diri menjadi juara Liga Jerman. Alexander Hassenstein/Pool via REUTERS

    Para pemain Bayern Munchen mengangkat pelatih mereka, Hansi Flick saat merayakan kemenangannya dalam Piala Jerman di Olympiastadion, Berlin, 4 Juli 2020. Kemenangan ini membawa Bayern mengoleksi dua gelar pada musim 2019/2020, setelah pertengahan Juni lalu memastikan diri menjadi juara Liga Jerman. Alexander Hassenstein/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertandingan tunggal babak perempat final Liga Champions Eropa di Estadio da Luz, Lisabon, Portugal, Sabtu dinihari mendatang, 15 Agustus 2020, antara Barcelona dan Bayern Munich ibarat sebuah laga final yang digelar secara prematur.

    Barcelona dan Bayern Munich mencapai perempat final Liga Champions untuk ke-18 kali, atau lebih banyak dari tim lainnya. Sabtu dinihari mendatang adalah pertemuan pertama mereka sejak musim 2014-2015, ketika Barca mengalahkan raksasa Bundesliga itu pada semifinal.

    Bayern Munich begitu dominan musim ini. Lihatlah bagaimana mereka menghancurkan Chelsea dengan keunggulan agregat 7-1 pada babak 16 besar. Adapun pada babak yang sama Barcelona hanya menang agregat 4-2 dari Napoli.

    Baca Juga: Bundesliga Jerman Yakin Bayern Munich akan Rontokkan Barcelona, Anda?

    Raja gol di Liga Champions musim ini adalah ujung tombak Bayern Munich, Robert Lewandowski, yang juga kapten tim nasional Polandia. Sedangkan koleksi gol Lionel Messi musim ini di kejuaraan yang sama memprihatinkan.

    Bayern Munich adalah representasi pas sosok tim nasional Jerman yang sangat terkenal dengan julukan tim spesialis turnamen.

    Saya pernah melihat wajah yang begitu percaya diri didukung fasilitas latihan dan sara pendukung yang paling lengkap dan paling canggih di antara tim lainnya, ketika tim nasional Jerman berlaga dalam putaran final Piala Eropa atau Euro 2012 di Polandia dan Ukraina.

    Saya melihat wajah-wajah percaya diri dan “dingin” anak-anak Bayern Munich sebagaimana rekan-rekannya di tim Jerman dalam fasilitas yang begitu mewah di sebuah komplek kepolisian di pinggiran Kota Gdanks, Polandia, tempat mereka mengambil markas selama mengikuti Euro 2012.

    Dalam sebuah perjalanan –yang mesti mencarter mobil bersama beberapa rekan peliput dari Indonesia- yang lumayan jauh dari stasiun kereta di Gdanks untuk mencapai markas Jerman di Euro 2012 itu, saya menjumpai seseorang pria bertubuh sedang untuk ukuran orang Eropa –tinggi 1,77 meter- yang terus menemani pelatih Joachim Low, sebelum acara jumpa pers.

    Kelak, saya tahu pria itu adalah Hans-Dieter Flick atau bisa dipanggil Hansi Flick. Ia adalah  manajer Bayern Munich yang akan memimpin Lewandowski dan kawan-kawan menghadapi Barcelona pada Sabtu dinihari nanti.

    Sambil menikmati kecanggihan pusat pelayan pers tim Jerman di Gdanks, kemewahan  fasililitas dan metode latihan mereka –tapi, para wartawan hanya diizinkan meliput selama 15 menit-, dan tentu saja santapan makanan dan minumannya secara gratis (dari semua tim peserta Euro 2012, hanya Jerman yang melakukan hal itu), tak terbayangkan bahwa dalam beberapa hari kemudian, Jerman akan tumbang di tangan Italia pada semifinal di Stadion Nasional Warsawa, Polandia.

    Kebetulan, saya bisa melihat Joachim Low mencoba berbicara tenang dan berusaha diplomatis pada acara jumpa pers di ruangan pusat MPC di Stadion Nasional Warsawa setelah dikalahkan Andrea Pirlo cs dari Italia. Juga wajah-wajah beku pemain Jerman yang melintas di ruangan mixed zone, termasuk Hansi Flick, menuju lorong keluar stadion dan menaiki bus yang membawa mereka melintasi malam.  

    Oh ya, juga setelah berbondong-bondomg meninggalkan ruangan main press centre PGE Narodowy, nama lain Stadion Nasional Warsawa, masih terekam juga wajah-wajah tertunduk dan membisu para rekan wartawan dari Jerman memasuki bus.

    Kehebatan dan kecanggihan rekor Bayern Munich atau Bayern Munchen di Bundesliga dan Liga Champions musim ini menjelang laga Sabtu dinihari mendatangkan mengingatkan kepada cerita Hansi Flick cs di Gdanks dan Warsawa delapan tahun lalu itu.

    Dalam sejarahnya di sepak bola, selalu ada hal-hal yang bisa menggerus kecanggihan teknik, metode latihan, dan penerapan kemajuan teknologi dalam pembinaan sebuah tim sepak bola.

    Hal itu antara lain bisa bernama talenta dan “ilmu seni” serta munculnya pemain-pemain yang superistimewa dalam sepak bola. Andrea Pirlo sudah membuktikan hal itu di Euro 2012. Di Estadio da Luz, ada pemain isnpirator dan playmaker yang punya kelas lebih tinggi dari Pirlo, Lionel Messi. Mungkinkah Messi yang bikin Barcelona bisa mengalahkan sosok raksasa Bayern Munich, Sabtu dinihari nanti?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.