Total Football Hansi Flick di Bayern: Intensitas Tekanan Tinggi kepada Lawan

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemain Bayern Munchen mengangkat pelatih mereka, Hansi Flick saat merayakan kemenangannya dalam Piala Jerman di Olympiastadion, Berlin, 4 Juli 2020. Kemenangan ini membawa Bayern mengoleksi dua gelar pada musim 2019/2020, setelah pertengahan Juni lalu memastikan diri menjadi juara Liga Jerman. Alexander Hassenstein/Pool via REUTERS

    Para pemain Bayern Munchen mengangkat pelatih mereka, Hansi Flick saat merayakan kemenangannya dalam Piala Jerman di Olympiastadion, Berlin, 4 Juli 2020. Kemenangan ini membawa Bayern mengoleksi dua gelar pada musim 2019/2020, setelah pertengahan Juni lalu memastikan diri menjadi juara Liga Jerman. Alexander Hassenstein/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Martin Demichelis, mantan bek tengah Bayern Munich, membuat deskripsi dan prediksi yang tepat mengenai strategi yang dikembangkan pelatih Hansi Flick untuk membawa klub Bavarian ini mengalahkan Paris Saint-Germain 1-0 pada final Liga Champions Eropa di Estadio da Luz, Lisabon, Portugal, dinihari tadi, Senin 24 Agustus 2020.

    Demichelis memenangi Bundesliga empat kali bersama Bayern Munich. Pria dari Argentina itu kini menjadi pelatih Bayern U-19. Ia meyakini sejak sebelum final, bahwa taktik menyerang yang dikembangkan Hansi Flick di klub Bavarian ini bakal mengatasi kegesitan trio penyerang PSG,  Angel Di Maria, Kylian Mbappé, dan Neymar.

    Demichelis meyakini high press atau pressing tinggi, yang dalam sepak bola berarti mendorong semua pemainnya, kecuali kiper, untuk naik atau mengambil posisi dan bergerak lebih maju sampai mendekati garis tengah lapangan, akan membuat Paris Saint-Germain kewalahan.    

    "Bayern tidak akan memodifikasi struktur dan gaya permainan mereka karena mereka sudah melewati berbagai kesulitan dalam pertandingan-pertandingan yang berbeda dengan taktik seperti itu,” kata Demichelis kepada Ole sebagaimana dikutip Marca English.

    "Mereka mengambil risiko, meski memasang sistem pertahanan dengan sebuah garis tinggi. Itu karena sudah memberikan hasil kepada mereka mendekati posisi sebagai tim pencetak gol tertinggi sepanjang sejarah Liga Champions,” jelas Demichelis.

    "Itu juga sebuah demonstrasi dari keberanian mengambil risiko yang bisa sewaktu-waktu mendatangkan bencana, seperti dalam beberapa menit saat melawan Lyon (pada semifinal). Tapi, Bayern tidak mengubah gaya permainan mereka,” Demichelis melanjutkan.

    "Mereka tahu selanjutnya melawan PSG yang memiliki Neymar, Mbappe, dan Di Maria dengan kualitas tinggi dan sangat cepat. Tapi, Bayern akan bermain dengan cara yang sama.”

    “Menghadapi intensitas tinggi yang dikembangkan Bayern sepanjang 90 menit akan membuat lawan, termasuk PSG kewalahan,” Demichelis melanjutkan.

    Demichelis juga menegaskan Alphonso Davies dan David Alaba di lini belakang sangat sigap dan cepat serta ditunjang kiper Manuel Neuer yang lihai dalam melakukan intersep, yaitu  merebut penguasaan bola untuk memotong pergerakan lawan.

    Adapun makna intensitas dalam permainan sepak bola adalah kekuatan untuk secara terus-menerus melakukan taktik yang disepakati. Dalam hal Bayern Munich ini adalah intesitas para pemainnya untuk menjalakan taktik pressing tinggi sepanjang 90 menit.

    "Bayern bisa melalukan tekanan tinggi karena kecepatan yang dimiliki para pemain beknya. Alaba mengembangkan dirinya menjadi seorang bek tengah (dulunya ia bek sayap dan gelandang) dan sangat cepat,” Demichelis melanjutkan.

    "(Jerome) Boateng (yang kemudian cedera dan digantikan Nicklas Sule) mungkin sudah tidak secepat beberapa tahun sebelumnya. Tapi, ia punya mental cepat karna pengalamannya,” kata Demichelis.   

    “Tentu saja PSG akan memiliki sejumlah peluang tapi di sana juga ada Manuel di kotak penalti yang sangat kuat secara fisik dan penampilan,” Demichelis menambahkan.

    Perkiraan Demichelis terbukti mendekati sempurna. Manuel Neuer minimal membuat tiga kali penyelamatan gemilang, antara lain menepis tembakan lambung Neymar dan memblok tembakan Marquinhos.

    Paris Saint-Germain dinihari tadi memang kalah dalam penguasaan bola dan terus-menerus dalam tekanan. Mereka melawannya dengan serangan balik yang jitu terutama karena kualitas indvividu Angel Di Maria, Kylian Mbappe, dan Neymar.

    Taktik high pressing Bayern Munich dinihari tadi juga nyaris mendatangkan risiko pada injury time –tambahan waktu setelah 90 menit-, kalau saja Eric Maxim Choupo-Moting tak luput menyambar bola dari umpan terobosan Neymar ke mulut gawang Bayern, setelah melakukan umpan satu-dua dengan Mbappe. Hasilnya bisa saja berbeda 1-1 pada waktu laga normal.

    Dengan intensitas yang luar biasa dalam menekan lawan dan keberanian mengambil risiko seperti itu, Hansi Flick membawa Bayern Munich memenangi 21 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi dan mencetak 43 gol dalam 11 pertandingan Liga Champions musim ini.

    Dalam taktik total football yang dikembangkan Belanda dan Ajax pada periode 1970-an dan diadaptasi Jerman di Piala Dunia 1974, pertahanan terbaik adalah terus menyerang dan menguasai bola. Ajax tak lagi bisa sempurna melakukannya sampai di semifinal Liga Champions musim lalu. Hansi Flick bersama Bayern Munich layak disebut sukses menerapkan taktik legendaris tersebut dengan paripurna dinihari tadi.

    Baca Juga: Hansi Flick, Arsitek Mesin Kemenangan Bayern Munich


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.