Bhayangkara FC Minta 4 Pemainnya di Timnas U-23 Tak Lagi buat Kesalahan

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Timnas U-23 Indonesia. Antara

    Timnas U-23 Indonesia. Antara

    TEMPO.CO, JakartaManajemen Bhayangkara Solo FC memberi pesan kepada empat pemainnya yang ikut dipanggil dalam pemusatan latihan (TC) Timnas U-23 Indonesia untuk SEA Games 2021 agar menjaga sikap serta nama baik klub.

    "Semua pemain wajib berlatih keras dan disiplin untuk jaga nama baik klub, jangan pernah lakukan kesalahan," ujar COO Bhayangkara Solo FC Sumardji seperti dikutip dalam laman resmi klub dari Jakarta, Kamis.

    Sebelumnya, timnas Indonesia menggelar pemusatan latihan (TC) di Jakarta pada pekan ini. Pelatih Shin Tae-yong memanggil 36 nama dan empat di antaranya adalah pemain Bhayangkara Solo FC.

    Keempat pemain tersebut adalah Adam Alis, Nurhidayat, Saddil Ramdani, dan Deny Sulistyawan. Mereka diharapkan bisa memaksimalkan kesempatan dan tentunya menunjukkan sikap profesional.

    Sumardji tak ingin agar kasus yang menimpa Serdy Ephy Fano kembali terulang. Kala itu, Serdy yang tengah ikut TC timnas U-19 di Jakarta, kedapatan berada di sebuah tempat hiburan malam. Akibat kelakuannya tersebut, ia pulang ke hotel sekitar pukul 03.00 WIB dan terlambat datang latihan pagi.

    Shin Tae-yong yang dikenal tegas dan disiplin lantas mencoret namanya di daftar pemain. Paling melalukan, pencoretan itu menjadi yang kedua dialami Serdy.

    "Jangan pernah melakukan pelanggaran sekecil apapun. Kesuksesan pemain itu akan menjadi kebanggaan untuk klubnya juga," kata dia.

    TC timnas Indonesia U-23 di Jakarta akan berlangsung hingga 31 Desember dan mendapat pengawasan langsung dari Shin Tae-yong. Namun, Shin akan lebih dulu meninggalkan TC, karena ikut terbang ke Spanyol bersama timnas U-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.