Liga 1: Barito Putera Pinjamkan Alexandar Rakic ke Klub Bosnia

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Barito Putera, Aleksandar Rakic. (instagram/@rakic_a.9)

    Pemain Barito Putera, Aleksandar Rakic. (instagram/@rakic_a.9)

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen Barito Putera meminjamkan satu pemain asing mereka yakni Alexandar Rakic ke klub Liga Premier Bosnia & Herzegovina, FK Krupa, hingga Mei 2021.

    Alasan manajemen meminjamkan pemainnya karena belum ada kepastian kick off kompetisi Liga 1 Indonesia. Sehingga mau tak mau meminjamkan pemainnya agar kondisi kebugaran tetap terjaga.

    "Kalau pemain asing karena jauh dari kami, mereka bisa menjaga kebugaran dengan mengikuti liga setempat, kami pinjamkan," kata CEO Barito Putera Hasnuryadi Sulaiman, seperti dikutip dari laman resmi klub.

    Rakic sendiri masih menjadi pemain yang dipertahankan manajemen Laskar Antasari. Pemain berusia 34 tahun itu mendapat perpanjangan kontrak pada awal 2021, tetapi tak diketahui secara rinci berapa lama durasi perpanjangan tersebut.

    Menurut Hasnur, opsi meminjamkan pemain saat jeda kompetisi dianggap lebih rasional, karena bermain di kompetisi resmi. Ketimbang menjalani latihan mandiri dan mengikuti pertandingan tak resmi, sebab pemain membutuhkan kondisi yang kompetitif.

    “Dalam pertandingan tarkam kita tidak pernah tahu apakah benar-benar menjalankan protokol kesehatan. Selain itu kalau cedera, tentu pihak klub yang ikut dirugikan," kata Hasnuryadi.

    Baca Juga: Turnamen Pramusim Diikuti 20 Klub Liga dan Liga 2

    Di samping meminjamkan Alexandar Rakic, manajemen Laskar Antasari juga kini tengah dibuat harap-harap cemas oleh salah satu pemain asing lainnya yakni Cassio de Jesus. Manajemen Barito Putera menawari perpanjangan kontrak terhadap pemain asal Brazil itu, tetapi hingga saat ini belum ada jawaban karena sang pemain masih menunggu soal kepastian liga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.