Kisah Keluarga Glazer, Pemilik Manchester United yang Dibenci Suporter

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Supporter Manchester United melakukan aksi protes sebelum pertandingan Liga Inggris antara Manchester United vs Liverpool di Old Trafford, Manchester, 2 Mei 2021. Action Images via REUTERS/Carl Recine

    Supporter Manchester United melakukan aksi protes sebelum pertandingan Liga Inggris antara Manchester United vs Liverpool di Old Trafford, Manchester, 2 Mei 2021. Action Images via REUTERS/Carl Recine

     

    Alasan Suporter MU Membeci Glazer

    Ketika saham dibeli oleh Malcom Glazer, Manchester United sedang berada dalam kondisi terbaik mereka. Mereka juga mampu memenangkan banyak sekali trofi di bawah arahan manajer handal Sir Alex Ferguson.

    Peruntungan mereka kemudian seperti habis seiring pensiunnya Ferguson pada 2013. Manajemen silih berganti datang, tapi trofi tak juga datang. Glazer kemudian dianggap bersalah karena menerapkan pola belanja yang membuat klub itu tak lagi mampu membeli pemain super seperti sebelumnya.

    Pengelolaan klub di bawah Glazer juga menjadi kepedulian fans. Mereka kecewa melihat MU yang tadinya bebas kini memiliki utang hingga Rp 10 triliun. Hutang tersebut terjadi karena pembelian club kala itu disokong oleh peminjaman dana dari aset klub.

    Penggemar beranggapan bahwa Glazer hanya menjadikan MU sebagai mesin pencetak uang, guna menutupi hutang-hutang tersebut. Mereka lebih kecewa karena pada saat sama prestasi MU terus merosot. Klub langganan juara itu bahkan sempat berkutat di papan tengah klasemen Liga Inggris dan kesulitan mencapai Liga Champion.

    Pada 2005, Malcolm Glazer membeli klub Manchester United. (AP Photo/Dave Martin, File)

    Seorang Legenda MU, Gary Naville, ikut terusik melihat buruknya pengelolaan club oleh keluarga Glazer. Karena itu ia mendukung tindakan suporter melalukan protes.

    “Ini adalah konsekuensi dari tindakan pemilik Manchester United dua pekan lalu,” kata Neville kepada Sky Sports. “Ada ketidakpercayaan dan ketidaksukaan umum yang sangat besar pada pemilik. Mereka (suporter) pada dasarnya mengatakan cukup sudah."

    "Keluarga Glazer telah tahan banting dan keras kepala selama bertahun-tahun. Saya pikir mereka sedang berjuang untuk memenuhi tuntutan finansial yang dibutuhkan klub ini dan telah dilakukan selama beberapa waktu."

    “Jika Anda berpikir tentang klub yang mereka ambil pada tahun 2004, mereka memiliki stadion terbaik di negara ini, mungkin salah satu yang terbaik di Eropa; tempat latihan terbaik di negeri ini, mungkin tempat latihan terbaik di Eropa; tim mencapai semifinal Liga Champions, perempat final dan final secara teratur dan memenangkan liga setiap musim atau setiap musim lainnya."

    “Anda lihat klub sekarang. Stadion ini, jika Anda pergi ke belakang layar, sudah berkarat dan membusuk. Tempat latihan mungkin sekarang bahkan tidak termasuk dalam lima besar di negara ini. Mereka belum pernah mencapai semifinal Liga Champions selama 10 tahun dan belum memenangkan liga selama delapan tahun. Tanah di sekitar tanah belum berkembang, tidak aktif, dan terlantar ketika klub lain tampaknya mengembangkan fasilitas dan pengalaman penggemar mereka."

    Pernyataan Naville mencerminkan rasa kecewa pecinta klub Manchester United atas kiprah keluarga Glazer sebagai pemilik klub. Demonstrasi yang dilakukan akhir pekan lalu, dipastikan tak akan jadi aksi terakhir dari para suporter yang kecewa. Mereka akan terus menyuarakan ketidakpuasannya, mungkin hingga Glazer menjual sahamnya atau hingga MU kembali juara lagi.

    MIRROR | ANGGIE RIZKI GOVALDI

    Baca Juga: Prediksi Manchester City vs PSG di Leg 1 Semifinal Liga Champions Selasa Malam Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.