Liga Champions: Man City vs PSG 2-0, Verratti: Kartu Merah Runtuhkan Kepercayaan

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain PSG Neymar mengeksekusi tendangan bebas saat bertanding melawan Manchester City dalam Semifinal Liga Champions, di Etihad Stadium di Manchester, Inggris, 4 Mei 2021. REUTERS/Phil Noble

    Pemain PSG Neymar mengeksekusi tendangan bebas saat bertanding melawan Manchester City dalam Semifinal Liga Champions, di Etihad Stadium di Manchester, Inggris, 4 Mei 2021. REUTERS/Phil Noble

    TEMPO.CO, JakartaMarco Verratti menegaskan bahwa Paris Saint-Germain (PSG) terus menjaga kepercayaan diri mereka dalam leg kedua semifinal Liga Champions melawan Manchester City, sampai akhirnya kartu merah yang diterima Angel Di Maria meruntuhkan itu semua.

    Seperti di leg pertama, PSG dipaksa menuntaskan pertandingan leg kedua hanya dengan 10 pemain setelah Di Maria menerima kartu merah pada menit ke-69 di Etihad, Manchester, Inggris, Selasa waktu setempat (Rabu dinihari WIB).

    Di Maria terlibat cekcok kecil dengan Fernandinho saat berusaha mengambil bola lemparan ke dalam dan sayap asal Argentina itu kemudian terlihat secara sengaja menginjak kaki kapten City, yang direspon tegas oleh wasit Bjorn Kuipers dengan kartu merah.

    Kartu merah itu diterima hanya enam menit setelah Riyad Mahrez mencetak gol keduanya dan menggandakan keunggulan City 2-0, dan seperti di Parc des Princes sepekan yang lalu, The Citizens mudah saja menjaga skor itu dalam situasi 11 lawan 10 hingga peluit bubaran berbunyi.

    "Kami terus punya kepercayaan sampai kartu merah itu terjadi," kata Marco Verratti selepas laga dilansir laman resmi UEFA.

    "Kami bermain jauh lebih baik dari mereka, tetapi kemudian kebobolan dari peluang pertama lawan, sama seperti di leg pertama. Tetapi itulah yang terjadi ketika Anda menghadapi tim besar," ujarnya menambahkan.

    Komentar Verratti relatif berbeda dari apa yang terjadi di atas lapangan, di mana City sukses meredam banyak serangan PSG kendati tamunya itu memiliki 55 persen penguasaan bola sepanjang laga.

    Sayangnya, dari dominasi itu tak satu pun dari 14 percobaan tembakan PSG menemui sasaran dan peluang terbaik mereka "hanya" sundulan Marquinhos yang masih membentur mistar gawang.

    Sebaliknya, City mampu memanfaatkan permainan sabar mereka untuk memetik dua gol dari serangan-serangan balik mereka yang klinis dan gawang PSG dua kali dikoyak oleh Riyad Mahrez.

    Verratti mengakui bahwa City pantas mencapai final, sembari berkilah bahwa kedua tim dibedakan atas durasi kepelatihan juru taktik di masing-masing kubu.

    "City pantas atas ini juga, sebab mereka sudah bekerja dengan pelatih yang sama selama enam atau tujuh tahun dan ini akan menjadi final perdana mereka di kompetisi ini," ujar Verratti.

    "Tapi kami harus memuji kampanye kami di kompetisi ini juga, sebab dalam dua tahun kami mencapai final dan semifinal. Kami harus melanjutkannya, terlebih pelatih kami baru bertugas lima bulan di tim ini," kata dia.

    Mauricio Pochettino memang baru menangani PSG sejak awal tahun ini, menggantikan Thomas Tuchel yang musim lalu mampu membawa Le Parisiens ke final Liga Champions dan menyapu bersih gelar tiga kompetisi domestik Prancis.

    Hasil semifinal melawan PSG kali ini juga menjadi ajang revans kecil bagi City-nya Pep Guardiola, yang disingkirkan Tottenham Hotspur-nya Pochettino dari babak serupa dua tahun silam.

    Baca Juga: Begini Komentar Pep Guardiola Setelah Man City Lolos ke Final


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.