10 Fakta dari Hasil Final Liga Champions: Manchester City vs Chelsea 0-1

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Chelsea Kai Havertz saat mencetak gol di final Liga Champions vs Manchester City, 29 Mei 2021. REUTERS/Jose Coelho

    Pemain Chelsea Kai Havertz saat mencetak gol di final Liga Champions vs Manchester City, 29 Mei 2021. REUTERS/Jose Coelho

    TEMPO.CO, Jakarta - Laga Manchester City vs Chelsea tersaji di final Liga Champions 2020/21, Ahad dinihari, 30 Mei 2021. The Blues menjadi juara berkat kemenangan 1-0 dalam laga di Porto, Portugal itu.

    Satu-satunya gol dalam final sesama tim Inggris itu dicetak Kai Havertz pada menit ke-42. Ia membawa Chelsea menjadi kampiun dengan golnya yang memanfaatkan umpan Mason Mount.

    Berikut sejumlah fakta dari laga final dan hasilnya:

    • Chelsea merebut gelar juara Liga Champions yang kedua kalinya, setelah yang pertama pada 2012. Man City gagal menjadi juara saat menjalani final pertamanya.

    • Chelsea berhasil mengangkat enam trofi dari tujuh final kompetisi Eropa yang diikutinya. Empat di antaranya diraih di era Roman Abramovich (Liga Champions 2020-21 dan 2011-12 serta Liga Europa 2012-13 dan 2018-19).

    • Kai Havertz menjadi pemain pertama yang mencetak gol di final Liga Champions pertamanya, sejak lkay Gündoan melakukannya pada 2013 bersama Bayern Munchen.

    • Havertz menjadi pemain Jerman termuda kedua (21 tahun 352 hari) yang mencetak gol di final Liga Champions setelah pemain Borussia Dortmund Lars Ricken pada 1997 (20 tahu 322 hari saat melawan Juventus).

    • Dengan assis-nya, Mason Mount menjadi pemain Inggris pertama yang memberikan umpan berbuah gol Liga Champions sejak Wes Brown (Manchester United) melakukannya saat melawan Cheslea pada 2008.

    • Thiago Silva (36 tahun 249 hari) merupakan pemain Chelsea tertua yang tampi di final kompetisi Eropa. Ia memecahkan rekor Claude Makélélé yang tampil saat melawan Manchester United final Liga Champions 2008 (35 tahun 93 hari).

    • Silva menjadi pemain kelima yang mampu tampil di dua final Liga Champions secara beruntun dengan tim berbeda (sebelumnay bersama PSG), setelah Marcel Desailly, Paulo Sousa, Samuel Eto’o, dan Álvaro Morata. Tapi, nasib bek itu tak terlalu bagus. Pemain Brasil diganti karena cedera pada menit ke-39.

    • Pelatih Thomas Tuchel menebus kegagalannya di final liga Champions, setelah musim lalu gagal membawa PSG juara. Ia melakukannya dengan meraih kemenangan ketiga dalam rentang sebulan atas Manchester City.

    • Pelatih Man City, Pep Guardiola, gagal menempatkan diri di jajaran manajer elit --berjumlah lima orang-- yang pernah menjuarai Liga Champions dengan dua klub berbeda. Ia sebelumnya pernah memenangi Liga Champions bersama Barcelona pada 2009 dan 2011, tapi gagal di Bayern Munchen.

    • Pemain Chelsea, Mateo Kovacic, meraih trofi Liga Champions keempatnya. Ia sebelumnya juara bersama Real Madrid, meski tak bermain di ifnal, pada 2016, 2017, dan 2018. Kali ini, ia tampil di final, sebagai pemain pengganti Mason Mount pada menit ke-80.

    REUTERS | OMNI SPORT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.