Lahirnya Bhayangkara FC Tak Lepas dari Konflik di Tubuh Persebaya Surabaya

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Bhayangkara FC. dok.Bhayangkara FC

    Tim Bhayangkara FC. dok.Bhayangkara FC

    TEMPO.CO, Jakarta - Klub sepak bola Bhayangkara FC menjadi salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia. Dengan berbagai prestasi yang berhasil dicatatkan, Bhayangkara FC kerap tampil di beberapa liga Utama di Indonesia. Selain terkenal karena reputasinya di dunia sepak bola, Bhayangkara FC juga dikenal karena asal-usul dan kepemilikan klubnya, yang dimiliki oleh Polri. 

    Kehadiran Bhayangkara FC tidak terlepas dari peran salah satu klub sepak bola besar lain, yakni Persebaya FC. Dilansir dari sejarahpersebaya.com, kehadiran Bhayangkara FC tidak terlepas dari konflik internal yang menyebabkan adanya dualisme kepengurusan Persebaya FC. Dualisme tersebut kemudian berbuntut pada konflik akuisisi kepemilikan klub. 

    Dualisme dalam kepengurusan internal Persebaya berawal dari terdegradasinya klub tersebut ke divisi dua Liga Super Indonesia (LSI). Degradasi tersebut dibarengi dengan berbagai permasalahan lain. Akibatnya, Persebaya terpaksa mendapat sanksi supaya hengkang dari LSI. 

    Permasalahan tersebut membuat Persebaya terombang-ambing di antara dua kepengurusan yang dipimpin oleh dua orang berbeda, Saleh Ismail Mukadar dan Wishnu Wardhana. Wishnu berhasil menggelar Musyawarah Anggota untuk melakukan reorganisasi ulang kepengurusan internal Persebaya di bawah kepemimpinannya. 

    Selain menggelar Musyawarah Anggota, Wishnu juga mengirimkan surat ke PSSI supaya Persebaya bisa bermain di LSI. Pada akhirnya, Wishnu pun berhasil membawa Persebaya berada di bawah kepemimpinannya dengan nama Persebaya Surabaya. Di sisi lain, Saleh juga berusaha untuk menempatkan para pendukung Persebaya yang berada di pihaknya. Bersama dengan klub Persebaya yang diakuisisinya, yang bernama Persebaya 1927, ia bermain di Liga Primer Indonesia (LPI). 

    Meskipun telah bermain di liga yang berbeda, konflik dualisme tersebut tetap berlanjut. Setelah pembekuan PSSI oleh Menpora, Persebaya 1927 mengajukan gugatan kepada Persebaya Surabaya ke PN Surabaya. Putusan gugatan tersebut membuat Persebaya 1927 kembali menjadi pemilik utama atribut yang sebelumnya dimiliki Persebaya Surabaya. 

    Persebaya Surabaya, yang kalau itu berubah nama menjadi Persebaya MMIB, kembali mengalami perubahan akuisisi. Persebaya MMIB pun diakuisisi oleh Polri dan berubah menjadi Bhayangkara Surabaya United. Kemudian, klub tersebut berubah kembali menjadi Bhayangkara FC. 

    BANGKIT ADHI WIGUNA 

    Baca: Arema FC Vs Bhayangkara FC 1-1, Paul Munster Kecewa dengan Keputusan Wasit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...