Ancaman Pasukan Pembunuh Naga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepakbola Wigan Athletic, Hugo Rodallega. AP/Simon Dawson

    Pesepakbola Wigan Athletic, Hugo Rodallega. AP/Simon Dawson

    TEMPO Interaktif, London - Pelatih Wigan Athletic, Roberto Martinez, tak peduli siapa yang bakal menjadi juara Liga Primer musim ini: Chelsea atau Manchester United. Cuma satu yang diinginkan pelatih asal Spanyol ini pada laga di kandang Chelsea, Stadion Stamford Brdge, Minggu (9/5), yaitu kemenangan. 

    "Anda bermain untuk menorehkan kenangan indah, dan kenangan indah cuma didapat dengan menjadi juara atau meraih medali," kata Martinez. "Menang di Stamford Bridge bakal seperti meraih sebuah medali dan para pemain saya bisa menengok ke belakang
    dengan kebanggaan."

    Chelsea versus Wigan bak partai inti di antara sembilan laga yang lain pada pekan terakhir Liga Primer. Partai ini paling menentukan siapa yan berhak atas trofi musim ini. Bila Chelsea menang, piala bakal menghuni salah satu ruangan Stamford Bridge. Bila hasilnya seri, takdir juara masih harus melihat hasil pertandingan MU yang
    menjamu Stoke City. 

    Sampai pekan ke-37, Chelsea masih memimpin dengan 82 poin dan selisih gol plus 63. Tim asuhan Carlo Ancelotti itu unggul satu poin atas MU yang memiliki selisih gol plus 54. Artinya, MU bisa menjadi juara bila menang atas Stoke dan pada saat yang
    sama Chelsea kalah atau seri melawan Wigan. 

    Melawan The Latics --julukan Wigan-- bisa menjadi berkah tapi juga bisa berarti bencana bagi Chelsea. Pasalnya, tim asuhan Martinez itu kerap tampil mengejutkan bila berhadapan dengan klub-klub papan atas. Meski saat ini cuma menghuni papan
    ke-15, musim ini Wigan pernah mengalahkan Arsenal, Liverpool, juga Aston Villa. Dan jangan lupa, mereka juga membekap Chelsea 3-1 pada paruh pertama di kandang sendiri. Wigan bak "pasukan pembunuh naga".

    "Musim lalu, bila klub-klub besar semacam Chelsea, MU, dan Arsenal tak kesulitan bila berhadapan dengan tim-tim berperingkat di bawah 10," kata kapten Wigan, Mario Melchiot. "Musim ini lebih berat, mereka sadar bahwa kami berkembang dan kami bisa
    bersaing dengan mereka," kata bek kanan yang pernah bermain untuk Chelsea pada 1999-2004 itu. 

    Analisis pemain asal Belanda itu bisa dilihat pada poin yang diraih peringkat teratas. Bila menundukkan Wigan, Chelsea mengoleksi 86 poin. Ini poin terendah yang didapat seorang juara sejak musim 2002/2003. Kompetisi kian ketat, perolehan poin
    pun kian alot.

    Karenanya, Ancelotti tak mau menepuk dada kepagian. "Untuk menjadi juara, kami harus bermain seperti saat melawan Stoke (menang 7-0 dua pekan lalu) atau ketika berhadapan dengan Liverpool (menang 2-0 pekan lalu)," kata pelatih asal Italia ini.
    "Kami harus tetap menjaga determinasi sebab kompetisi belum berakhir."

    Meski begitu, pasukan Ancelotti memiliki modal kepercayaan diri tinggi untuk memenangi pertandingan. Chelsea telah membuktikan keperkasaannya di kandang sendiri musim ini. Mereka memenangi 16 laga dari 18 pertandingan kandang dengan mengoleksi 60 gol di Stamford Bridge. Sebaliknya, Wigan mengalami 13 kali kekalahan dari 18 partai tandang. 

    Pelatih MU, Alex Ferguson, sadar benar dengan kecilnya peluang timnya untuk melewati poin Chelsea. Pelatih berusia 68 tahun ini bersiap gagal mempersembahkan gelar Liga Primer keempat kalinya berturut-turut. Raihan gelar Liga Primer Sir Alex untuk sementara terhenti di angka 11 kali selama 24 tahun bersama MU. Dan Tim Setan Merah
    gagal memecahkan rekor koleksi juara Liverpool, 18 kali.

    Tapi, bukan berarti Ferguson menyerah sebelum kick off. "Kami akan melakukan apa pun selagi masih ada harapan," katanya. "Kami yakin Wigan akan memberikan yang terbaik yang mereka punya (melawan Chelsea). Dan kami harus mengalahkan Stoke."

    Peringkat ketiga-keempat

    Persaingan di bawah Chelsea-MU tak kalah seru. Meski sama-sama telah memastikan meraih tiket Liga Champions musim depan, Arsenal dan Tottenham Hotspur masih berlomba untuk menduduki peringkat ketiga. Untuk sementara, Arsenal unggul, 72 poin,
    dari Tottenham, 70 poin. Susunan peringkat bisa berubah bila Tottenham menundukkan Burnley dan Arsenal kalah dari tamunya, Fulham.

    Pelatih Tottenham, Harry Redknapp, diuntungkan oleh situasi psikologis pemain Burnley yang sudah pasti terdegradasi. Sebaliknya, pelatih Arsenal, Arsene Wenger, juga diuntungkan oleh kondisi Fulham yang bersiap berangkat ke final Liga Eropa Rabu nanti. Fulham dipastikan menghemat tenaga untuk persiapan menghadapi Atletico Madrid. AFP | SOCCERNET | BBC | ANDY M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.