Dihargai Rp 800 Miliar, Real Madrid Ogah Boyong Gerard

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Steven Gerrard. REUTERS/Darren Staples

    Steven Gerrard. REUTERS/Darren Staples

    TEMPO Interaktif , Madrid:Real Madrid mengesampingkan rumor yang menyebutkan siap memboyong Steven Gerrard lantaran usia maupun nilai kapten Inggris, menurut konsultan transfer pemain Ernesto Bronzetti.

     

    Ditunjuknya Jose Mourinho sebagai pelatih El Real awal musim panas ini memantik rumor bahwa raksasa Spanyol itu siap memboyong Stevie G. Mou memang sempat berusaha memboyong buruannya ketika masih bercokol di Stamford Bridge, namun tidak akan kembali berusaha mendapatkan gelandang Liverpool itu kali ini.

    Masa depan Gerrard di Anfield memang memanas akhir-akhir ini. Gagalnya klub tampil di Liga Champions musim depan dan kepergian Rafael Benitez memperbesar rumor kepergian bintang Mersyside itu.

    Namun, Broncetti mengungkapkan bahwa bos Madrid Florentino Perez tidak berminat memboyong Gerrard musim depan. Alasan utamanya adalah mahalnya banderol pemain itu. “Kaka akan bertahan di Real, namun Perez tidak menyetujui untuk membeli Gerrard yang telah berusia 30 tahun dan ia tidak ingin tahu,” ujar Bronzetti. “Plus Liverpool meminta harga 70 juta euro (Rp 800 miliar),” tambahnya.

    Meski berita ini menjadi kabar bagus buat Liverpudlian, di lain pihak ada kabar tak sedap tentang masa depan Javier Mascherano. Kapten Argentina itu dikabarkan menjadi salah satu target utama Benitez di Guiseppe Meazza. Itu ditegaskan agen pemain itu yang mengatakan kliennya bersedia pindah.

    “Buat Mascherano dikaitkan dengan klub sekelas Inter adalah ajaib...ini mimpi. Untuk memikirkan ini, tim terkuat di dunia menginginkan klien saya, sebuah tim di mana rekannya bermain dan klub yang dipimpin seorang pelatih yang telah diketahuinya dengan akrab,” tukas Walter Tamer, aken Mascherano.

    SKYSPORT | BAGUS WIJANARKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.