Syal dan Topi Hangat Jadi Primadona di Afrika Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Upacara penutupan piala dunia 2010 di Stadion Soccer City, Johannesburg. REUTERS/Oleg Popov

    Upacara penutupan piala dunia 2010 di Stadion Soccer City, Johannesburg. REUTERS/Oleg Popov

    TEMPO Interaktif,Soweto:Ratusan nenek-nenek miskin di Afrika Selatan mengumpulkan uang lebih banyak dari yang pernah dilihat sepanjang hidupnya, menjual syal dan topi kepada fan sepak bola yang datang tanpa persiapan cuaca dingin selama Piala Dunia 2010.

    Project Gogo, yang berarti nenek-nenek dalam bahasa Zulu, yang biasa mengajar merajut kepada perempuan tua pengangguran di wilayah miskin di Johannesburg, menjual lebih dari 20,000 syal dan topi selama sebulan berlangsungnya turnamen di Afrika Selatan.

    Meski telah mendapat peringatan sebelumnya, banyak fan datang di Afsel tanpa membawa pakaian yang layak di Piala Dunia yang bertepatan dengan datangnya musim dingin sejak PD 1978, di mana temperatur bisa sangat menggigit terutama di stadion-stadion yang terletak di ketinggian seperti Johannesburg dan Bloemfontein.

    “Saya tidak pernah mendapatkan ribuan rand (US$ 132) sepanjang saya hidup dan 30 tahun bekerja buat orang kulit putih,” kata Victoria Maseko, nenek berusia 80 tahun yang bekerja sebagai pembantu ketika rezim apartheid masih bercokol di Afrika Selatan, Kamis (15/7).

    Maseko dan nenek-nenek lainnya sukses menjual syal yang bermacam-macam warna sesuai warna 32 tim. Ia membutuhkan dua hari untuk merajut barang dagangan yang dijualnya dengan banderol 170 rand (sekitar Rp 200 ribu) per barang.

    FIFA mengeluarkan kebijakan melarang pedagang kaki lima berjualan di stadion-stadion di sepanjang berlangsungnya Piala Dunia 2010. Namun, Maseko dan kawan-kawan memilih menjual barang dagangannya di luar taman-taman tidak resmi dan mal-mal.

    Gladis Zangli adalah nenek pertama yang bergabung dengan Project Gogo. Ia dapuk menjadi pemimpin pada grup yang berjumlah 60 orang perempuan.

    Tiap dua hari sekali, 15 orang nenek berkumpul di luar rumah masing-masing di Soweto, di mana mereka bekerja bersama-sama. “Di pagi hari kami menyediakan mereka teh atau kopi. Kami tidak menyediakan makan siang, saya berharap bisa namun kami tidak mempunyai uang,” ujar Zangili.

    Dipimpin Maseko, nenek-nenek penjual riang bernyanyi sementara wol berwarna merah, putih, dan biru menjuntai di ubin. Cucu-cucu menemani dengan bermain di dekat mereka. Project Gogo mulai didirikan pada 2006 untuk membuat bisnis berkelanjutan bagi penduduk Afsel yang tak mempunyai keahlian di mana sekitar seperempat angkatan kerja di Afrika Selatan menganggur.

    Syal maupun topi hangat berwarna bendera Afsel, Belanda, dan Meksiko menjadi primadona penjualan. Namun Maseko, Zangli, dan nenek-nenek lainnya khawatir penjualan akan melesu setelah berakhirnya Piala Dunia. Project Gogo sendiri sedang mencari peluang untuk menjual barang dagangan Maseko dan kawan-kawan ke luar negeri atau rantai-rantai penjualan di seantero Afrika Selatan.

    REUTERS | BAGUS WIJANARKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.