Buntut Suap, FIFA Skorsing Dua Anggota Komite Eksekutif  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepp Blatter. REUTERS/Christian Hartmann

    Sepp Blatter. REUTERS/Christian Hartmann

    TEMPO Interaktif,Zurich:Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) telah menskorsing dua anggota komisi eksekutifnya dan empat orang lainnya dalam lanjutan skandal penjualan suara Piala Dunia. Badan menegaskan akan melanjutkan investigasi terhadap keenam orang tersebut.

    Menurut Claudio Sulser, Ketua Komisti Etika, anggota Komite Eksekutif FIFA Amos Adamu dari Nigeria dan Reynald Temarii dari Tahiti, dilarang berkecimpung dalam urusan sepak bola hingga proses investigasi selesai. Panel yang diketuainya dijadwalkan akan kembali menggelar pertemuan antara 15 dan 17 November.

    Empat mantan anggota komisi eksekutif FIFA, Slim Aloulou, Amadaou Diakite, Ahongali Fusimalohi, dan Ismael Bhamjee, juga terkena skorsing. FIFA sendiri sedang menginvestigasi jika keempatnya melanggar peraturan etis badan.

    Panel Komisi Etika FIFA juga akan melanjutkan investigasi apakah dua calon negara tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 yang tidak disebutkan terkait masalah ini.

    “Hari ini adalah hari sedih bagi sepak bola. Kami harus berjuang untuk menghormati dan terutama kami harus berjuang jika orang yang mempunyai jabatan di FIFA berperilaku sesuai. Masyarakat kita dipenuhi iblis dan iblis ini bisa Anda temuka di dalam sepak bola,” tegas Presiden FIFA, Sepp Blatter, yang meminta waktu agar bisa mengembalika kredibilitas badan yang dipimpinnya.

    Komisie Eksekutif FIFA, yang dipimpuin Blatter akan memilih dua tuan rumah Piala Dunia dalam pemilihan rahasia di Zurich pada 2 Desember.

    FIFA membuka investigasi soal dugaan suap setelah tabloid Inggris, The Sunday Times melansir artikel di mana Adamu dan Temaril mendapat tawaran untuk menjual suaranya untuk mendanai proyek sepak bola.

    Adamu tampak dalam film yang diambil wartawan yang sedang menyamar, meminta US$ 800,000 (Rp 7,1 miliar) untuk membangun empat lapangan sepak bola sintetis di Nigeria. Uang itu rencananya akan dibayarkan langsung kepadanya.

    “Keputusan menskorsing keenam orang ini sudah benar dan tidak perlu dipertanyakan. Dari bukti yang kami dapat membuat kami mengambil keputusan ini. Kami ingin melindungi integritas proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022,” tegas Sulser.

    Sulser menambahkan FIFA tidak akan mentoleransi setiap pelanggaran pada kode etiknya.

    Piala Dunia 2018 akan digelar di Eropa. Empat kandidat itu di antaranya Inggris, Rusia Belgia-Belanda, dan Spanyol-Portugal yang berminat menggelar sebagai tuan rumah bersama.

    Tuan rumah Piala Dunia 2022 masih diperebutkan Amerika Serikat dan empat negara konfederasi sepak bola Asia, Australia, Jepang, Qatar, dan Korea Selatan.

    FIFA melarang para calon tuan rumah membuat kesepakatan dengan kandidat lainnya. Badan menegaskan kandidat harus mengedepankan “integritas, tanggung jawab, kepercayaan, dan keadilan.

    AP | bgs


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.