Loket Tutup, Pembeli Tiket Kesal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antri tiket di Senayan. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Antri tiket di Senayan. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Kekecewaan menghiasi wajah para calon pembeli tiket laga semifinal Piala AFF 2010 pada laga Indonesia melawan Filipina yang mengantri di pintu X Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa (14/12).

    Keputusan penjaga loket untuk menutup loket sebelum batas waktu yang ditentukan, membuat mereka protes dan langsung mendatangi kantor PSSI yang berada tak jauh dari loket. Sambil mengungkapkan umpatan-umpatan kekesalan, mereka bergerak hingga ke pintu masuk kantor PSSI.

    Mereka meminta agar loket kembali dibuka untuk melayani mereka yang jumlahnya mencapai sekitar 50 orang. Selama sekitar lima menit mereka berteriak sebelum akhirnya Ketua Panitia Lokal (LOC) Joko Driyono - yang juga sedang tampil dalam siaran langsung televisi di lokasi yang sama - menginstruksikan untuk membuka kembali loket tiket. Massa pun langsung bisa dibubarkan.

    Adanya kekecewaan ini tampaknya terjadi setelah tidak ada pengaturan yang lebih baik dalam antrean. Selain itu, hujan yang sempat mengguyur pada Selasa sore membuat mereka semakin sulit menahan kesabaran.

    Orang-orang yang mengantre tetap setia menanti, karena sudah mengetahui kalau loket bakal tutup pukul 19.00. Selasa ini, loket dibuka lebih cepat satu jam dari jam buka, 12.00. "Karena tadi ada yang mengantre sejak pagi sekali, jadi tadi diputuskan untuk tutup sedikit lebih cepat," kata Joko.

    Pihaknya tidak mungkin membuka loket lebih banyak. "Akan menyulitkan kami untuk melakukan sinkronisasi dengan cepat, kami khawatir justru nanti jumlah pembeli tiket melebihi kapasitas stadion," kata Joko.

    Sampai hari kedua penjualan, Joko memproyeksikan sudah terdapat 35 ribu tiket yang terjual.

    EZTHER LASTANIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.