McMenemy: Jangan Sebut Mereka Pemain Naturalisasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Pelatih tim nasional Filipina Simon McMenemy dengan tegas menolak sebutan naturalisasi yang melekat pada sembilan anak asuhnya. Mereka - yang kemudian menjadi begitu diwaspadai - memang berdarah campuran.

    "Mereka semua bukan berasal dari negara lain, mereka memiliki darah Filipina dan memutuskan untuk membela negara yang menjadi satu asal-usulnya," kata McMenemy, Kamis (16/12).

    Pemain berdarah Filipina ini adalah Jason de Jong, Robert James Dazo Gier, Ray Anthony Jonsson, Manuel Ott, James Joseph Placer Younghusband, Philip James Placer "Phil" Younghusband, Alexander Chaerles Luis Borromeo, Neil Etheridge, dan Christopher Robert Barbon "Chris" Greatwich.

    Pemain yang akan berlaga dalam kejuaraan Piala AFF melawan Indonesia Kamis malam ini, memang memiliki darah campuran Filipina dengan bangsa lain yang kebanyakan dari Eropa. Di mata McMenemy, keberadaan sembilan pemain blasteran dalam timnya ini menunjukkan adanya komitmen yang luar biasa dari mereka.

    "Mereka memang akhirnya menentukan pilihan untuk bergabung dalam tim negara asalnya, berbeda dengan naturalisasi," kata pelatih asal Inggris yang masih berusia 33 tahun itu.

    Dengan semangat semacam itu, menurut McMenemy, tentu menjadi modal tersendiri untuk membawa timnya ke prestasi yang lebih baik. Hal itu sudah dibuktikan lewat keberhasilan tim yang dikenal dengan julukan The Azkals itu dengan menembus babak kualifikasi piala AFF 2010.

    Tak berhenti sampai di situ saja, The Azkals melanjutkannya lagi dengan kesusksesannya menjadi runner-up Grup B dan masuk ke babak semifinal untuk pertama kalinya. Bisa dikatakan keberadaan sembilan pemain "londo" itu memberikan pengaruh besar di balik sukses tim Filipina.

    EZHTER LASTANIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.