Penonton Membeludak, Wartawan Tidak Dapat Kursi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Indonesia. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Suporter Indonesia. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Antusias masyarakat pencinta sepakbola menyaksikan bentrok terakhir Indonesia melawan Filipina pada semifinal Piala AFF Suzuki 2010 mengakibatkan jumlah penonton membludak. Namun, panitia ternyata tidak siap dengan kondisi demikian, akibatnya pengaturan penonton pun berantakan.

    Awalnya, petugas polisi masih bersikap tegas mengamankan bangku yang sengaja disediakan bagi wartawan yang bekerja meliput jalannya pertandingan. Tetapi, mereka akhirnya tidak bisa bersikap profesional dan membiarkan arus penonton yang ingin menduduki kursi wartawan.

    Akibatnya, banyak juru warta tidak kebagian kursi karena tempat media dijejali penonton. Mereka terpaksa menjalankan pekerjaannya meliput perjuangan Skuad Merah Putih melawan The Azkals selama lebih dari 90 menit dengan posisi berdiri.

    Beberapa di antara wartawan telah melancarkan protes kepada salah satu panitia. “Kenapa bisa begini, masak saya harus liputan sambil berdiri?” kata Eko Priyono, wartawan harian Berita Kota kepada salah satu panitia dengan nada membentak.

    Menanggapi gertakan Eko, panitia itu pun berkilah. “Kami sudah berusaha menghalangi, tetapi mereka memaksa duduk dengan alasan telah membayar tiket mahal,” kata panitia itu. Dan ia tidak bergerak untuk membantu mencari kursi, malah berlalu pergi.

    Hal serupa juga dialami, Ferril Dennys. Wartawan Kompas.Com itu pun tidak kebagian kursi. Ia mengaku terlambat masuk tribun karena harus liputan suasana antrian masuk tribun di luar.

    “Bagaimana kerja panitia ini, tidak profesional banget. Lembek, tidak bisa bertugas dengan baik,”kata Dennys. Ia bahkan merasa tidak terima karena ada salah satu pengurus PSSI, Ketua Komisi Banding, Rusdi Taher tampak duduk di salah satu kursi media.

    Selain Eko dan Dennys, masih banyak lagi wartawan lain yang bernasip sama. Mereka di antaranya, wartawan tabloid Bola, Respati Agung Nugroho, wartawan detik.com, Rossi Finza Noor, dan wartawan radio Elsinta, Bayu Istiqlal.

    Namun wartawan yang mendapatkan kursi juga tidak bisa bekerja dengan baik. Mereka tetap tidak bisa bekerja dengan baik, karena pandangan mata mereka terhalang penonton yang berdiri.

    Kumaidi, wartawan Sumatera Ekspres, menilai panitia kurang bertanggung jawab atas kenyamanan pekerja media dan penonton. "Panitia amatir, harus belajar banyak pada pertandingan. Semestinya kondisi ini bisa dikendalikan,"kata Kumaidi. Menurutnya, kondisi ini kesalahan panitia bukan penonton karena mereka telah membayar tiket mahal.


    RINA WIDIASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.