Rajagobal: Bermain Agresif Menyerang, Menjadi Kunci Kemenangan Malaysia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indonesia VS Malaysia. REUTERS/Syamsul Bahri Muhammad

    Indonesia VS Malaysia. REUTERS/Syamsul Bahri Muhammad

    TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Pelatih tim nasional sepakbola Malaysia, Rajagobal, bangga melihat pemainnya tampil menawan sehingga bisa menang 3-0 atas Indonesia pada laga final Piala AFF pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Ahad (26/12).

    Rajagobal mengaku tidak menyangka timnya bisa unggul dengan selisih tiga gol. "Saya hanya mengatakan, pada pemain untuk bermain agresif dan menyerang saat melawan Indonesia di kandang sendiri. Dan saya mengatakan hal yang sama itu saat memasuki babak kedua," kata Rajagopal usai pertandingan.

    Pelatih berambut putih yang murah senyum ini mengakui di awal babak pertama, timnya kesulitan mencetak gol. "Para pemain mengalami masalah pada eksekusi akhir," katanya. Namun, dia menambahkan, dirinya mencoba mengoptimalkan dukungan masyarakat sendiri karena bermain di kandang.

    "Ini sama seperti apa yang dirasakan Indonesia saat mengalahkan kami 5-1 di babak penyisihan grup lalu," katanya. Pelatih asal Selangor ini menyadari dukungan masyarakat sangat berpengaruh dalam pertandingan.

    Mengenai adanya isu penggunaan laser, Rajagopal belum bisa memastikan apakah itu suporter Indonesia atau Malaysia. "Kekalahan Indonesia berawal setelah pemain sayap kiri Oktovianus Maniani digancar kartu kuning," kata Rajagobal.

    "Walaupun unggul 3-0, kami tidak akan main hanya bertahan terus selama 90 menit. Kami juga ingin menciptakan banyak peluang gol seperti saat menghadapi Vietnam di leg kedua semifinal lalu," Rajagobal menegaskan.

    Ia mengaku tetap akan fokus menghadapi pertandingan kedua nanti. Rajagobal akan membawa timnya bermain fair play.

    RINA WIDIASTUTI/ MASRUR (kUALA LUMPUR)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.