Aman di Bawah Naungan Barracuda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Kekhawatiran akan terjadinya kericuhan di Gelora Bung Karno tadi malam tak terbukti. Meski tim nasional Indonesia tak menjadi juara, kemenangan dalam laga final kedua berhasil meredam kekecewaan puluhan ribu suporter timnas.

    Kemarahan para pendukung tim Garuda akibat kekalahan telak pada laga final pertama di Bukit Jalil juga dengan mulus diatasi sejak tim Malaysia memasuki stadion pada pukul 16.50 WIB. Pengamanan bagi para pemain tim tamu bersama ofisial mereka memang tak tanggung-tanggung. Lima mobil lapis baja Brigade Mobil, atau yang dikenal sebagai panser Barracuda, digunakan mengangkut mereka ke Senayan.

    Pada awalnya para suporter Indonesia yang berada di sekitar pintu Timur bingung dengan kedatangan rombongan mobil Barracuda ini. Namun mereka tetap memberi jalan. Beberapa suporter yang menyadari bahwa yang datang adalah tim Malaysia tampak mengacungkan jari tengah dan mengetuk-ketuk kendaraan tersebut. Tapi tak ada insiden berarti yang terjadi.

    Meski begitu, pengamanan dan razia berlapis yang disokong sekitar 7.000 polisi itu tak sepenuhnya bisa mencegah penonton yang nekat membawa alat pemancar sinar laser. Alat ini sangat dilarang digunakan, untuk mencegah terjadinya peristiwa memalukan seperti di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, ketika para suporter tuan rumah mengganggu konsentrasi pemain Indonesia dengan pancaran laser.

    Namun para suporter pembawa sinar laser itu tak sampai masuk ke stadion. Mereka tak kebagian tiket sehingga terpaksa mengikuti siaran final melalui layar lebar di luar stadion, seperti di pintu 10. Nah, ke arah layar itulah tembakan laser-laser itu bertaburan mengarah ke wajah-wajah pemain Malaysia atau pelatih Rajagobal.

    Penjagaan ketat rupanya juga tak cukup manjur mengatasi kelihaian para calo dan penonton yang banyak akal. Sebagian dari mereka bahkan berhasil masuk stadion dengan bermodal potongan tiket yang sudah dipakai penonton sebelumnya.

    Itulah yang terpantau di pintu 8 sektor 15. Petugas hanya merobek bagian kecil dari tiket. Sisa tiket itulah yang kemudian laris diperjualbelikan layaknya tiket dengan harga normal. "Mau enggak? Satu tiket Rp 50 ribu, bisa langsung masuk. Sini duitnya," ujar salah satu calo. Dan benar, bermodal tiket bekas, beberapa penonton leluasa masuk tanpa halangan petugas.

    ARYANI KRISTANTI | VENNIE MELYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.