FIFA Segera Bentuk Komisi Anti Korupsi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepp Blatter. TEMPO/ Nickmatulhuda

    Sepp Blatter. TEMPO/ Nickmatulhuda

    TEMPO Interaktif, Berne – Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengungkapkan keinginannya untuk membentuk Komisi Anti Korupsi menyusul tudingan penyalahgunaan wewenang yang mengguncang badan sepakbola dunia itu tahun lalu.

    Blatter juga mengkritik adu penalti dengan menyebut bahwa dalam sebuah olahraga tim tak dapat dibenarkan penggunaan sebuah sistem yang berpotensi menjadikan seorang pemain sebagai kambing hitam.

    Tahun lalu, dua dari 24 anggota Komisis Eksekutif FIFA, Reynald Temarii dan Amos Adamu, dijatuhi sanksi setelah keduanya dituding telah menjual suara mereka dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 berdasarkan laporan dari beberapa reporter dari tabloid Inggris, Sunday Times.

    Buntutnya, kedua orang itu tak dilibatkan dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia Desember lalu yang akhirnya memunculkan Rusia sebagai pemenang hak menggelar turnamen itu pada 2018 dan Qatar pada 2022.

    “Saya akan menangani kasus ini secara pribadi untuk memastikan tak ada korupsi di FIFA,” kata Blatter dalam wawancara dengan harian Swiss, SonntagsZeitung, Minggu (2/1). “Komisi (Anti Korupsi) ini akan memperkuat kredibilitas kami dan memberikan kami citra baru dalam hal transparansi.”

    Menurut Blatter, komisi tersebut akan terdiri dari 7 atau 9 anggota “tak hanya dari olahraga, taip juga dari politik, keuangan, bisnis dan kebudayaan”, tapi Blatter sendiri tak akan masuk dalam komisi tersebut.

    “Komisi ini harus independen untuk menjamin kredibilitas maksimal,” kata Blatter. “Saya ingin mempresentasikan komisi ini di hadapan Kongres FIFA di Zurich awal Juni nanti.”

    Sebelumnya, FIFA sudah memiliki Komisi Etik yang menangani kasus korupsi tahun lalu yang akhirnya memutuskan sanksi terhadap empat pejabat FIFA lainnya.

    Blatter yang akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden FIFA Juni mendatang, menegaskan dirinya tak pernah berpikir untuk mundur saat lembaga tersebut diguncang tudingan korupsi than lalu.

    “Tak pernah sedetik pun saya berpikir daya harus mundur,” aku Blatter. “Saya akan bertahan di sini lebih lama. Tapi, saya butuh banyak kekuatan untuk bertahan menghadapi kritikan pedas terhadap saya.”

    Blatter kemudian mengatakan bahwa sistem adu penalti bukan cara terbaik untuk mencari pemenang dalam laga-laga yang berakhir imbang di turnamen-turnamen besar.

    “Diskusi yang terus berlanjut adalah dalam sebuah olahraga tim seperti sepakbola, kita harus berusaha dan menemukan solusi di mana tim sebagai sebuah kesatuan harus menjadi penentu hasil akhir,” he said.

    “Bukan sesuatu seperti adu penalti di mana seorang pemain bisa menjadi kambing hitam dan harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.”

    Blatter mengatakan pencarian metode baru untuk menentukan pemenang dari laga-laga imbang tersebut merupakan tugas dari kelompok kerja yang telah dibentuk FIFA dan ditargetkan bisa mengubah sistem pertandingan pada Piala Dunia 2014.

    Pernyataan ini bertentangan dengan sikap Blatter sebelumnya yang menginginkan sistem adu penalti digunakan lebih luas termasuk dalam menentukan pemenang di laga-laga fase grup Piala Dunia. Ia juga sempat mengusulkan agar pertandingan di fase knockout yang berakhir imbang harus langsung ditentukan lewat adu penalti tanpa memainkan perpanjangan waktu.

    REUTERS | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.