Bibit: Klub Sepakbola Lebih Baik Tanpa Biaya APBD  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. TEMPO/Arif Wibowo

    Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. TEMPO/Arif Wibowo

    TEMPO Interaktif, Semarang - Gubernur Provinsi Jawa Tengah Bibit Waluyo menyambut baik keberadaan klub yang ikut kompetisi Liga Primer Indonesia, karena tidak menggunakan dana dari pemerintah daerah melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

    "Klub sepakbola yang mandiri dan tidak nyedot uang APBD lebih bagus. Kita semua harus mendukungnya," ujar Bibit di Semarang, Kamis (6/1/2011). Selama ini, kata Bibit, uang dari APBD sudah tersedot ke banyak sektor. Banyak program yang harus dilakukan pemerintah daerah, sehingga anggaran di APBD harus dibagi ke berbagai sektor.

    Ia mencontohkan, jika ada jalan rusak maka APBD harus menganggarkan untuk perbaikan. Begitu juga dengan berbagai persoalan di masyarakat lainnya, maka APBD dibagi-bagi. "APBD itu sudah diiris-iris dan dirajang-rajang untuk disalurkan kemana-mana," kata dia.

    APBD Jawa Tengah 2011, kata dia, menggelontorkan dana ke bidang olahraga. Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah mendapatkan Rp 38 miliar, adapun Komite Olahraga Nasional (KONI) Jawa Tengah mendapatkan dana Rp 43 miliar.

    Bibit menyatakan, selama ada program untuk kepentingan kemajuan sepakbola di Indonesia maka seluruh kompetisi harus didukung bersama. Jika ada kompetisi yang mencari bibit-bibit pemain sepakbola, maka itu juga lebih baik.

    "Caranya ada yang melalui PSSI, ada yang melalui LPI, dan lain-lain," ujar Bekas Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) ini.

    Para tokoh sepakbola di Indonesia bersama dengan pengusaha Arifin Panigoro menggelar kompetisi Liga Primer Indonesia. Laga perdana Liga Primer Indonesia akan digelar di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah Sabtu (8/1) mempertemukan Solo FC melawan Persema Malang.

    Selama ini, banyak klup sepakbola yang mendapatkan kucuran dana dari APBD untuk biaya mengarungi kompetisi di bawah naungan PSSI. Di Semarang, misalnya, PSIS Semarang mendapatkan Rp 1,2 miliar dari APBD Perubahan 2010.

    Gelontoran dana APBD untuk PSIS akhir-akhir ini memang berkurang tajam. Selain karena dikecam berbagai pihak, saat ini PSIS sudah berada di kompetisi divisi utama, tidak di kompetisi Liga Super.

    Sebelumnya, dana yang diterima PSSI dalam musim kompetisi tahun-tahun lalu adalah Rp 3,1 miliar pada 2004, Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), serta Rp 12,2 miliar (2007).

    ROFIUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.