Klub Besar Terancam Tak Ikut Kompetisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Amston Probel

    TEMPO/Amston Probel

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Komite Kompetisi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Sihar Sitorus mengatakan pengumuman klub-klub peserta kompetisi pada Senin, 26 September 2011, akan diwarnai kejutan. Menurut Sihar, ada beberapa klub, salah satunya klub besar, yang kemungkinan tak bisa masuk kompetisi karena sampai saat ini belum memenuhi persyaratan.

    "Mungkin kami akan ambil keputusan yang mengejutkan lagi besok. Tapi belum tahu seperti apa. Kami memang ingin capai jumlah peserta kompetisi 24 klub, tapi nanti kita lihat apakah dari 24 klub itu memenuhi persyaratan. Jika tidak, pasti akan ada yang terkejut lagi," kata Sihar ketika dihubungi pada Ahad, 25 September 2011.

    Sihar mengatakan kejutan itu berupa beberapa klub yang kemungkinan tak bisa ikut kompetisi karena sampai saat ini belum memenuhi persyaratan yang diminta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Beberapa persyaratan tersebut antara lain kesanggupan finansial, memiliki atau telah mengontrak stadion, dan memiliki badan hukum berbentuk perseroan terbatas.

    Sihar enggan mengatakan klub mana saja yang belum memenuhi syarat tersebut. Ia hanya menyebutkan kemungkinan ada tiga hingga empat klub yang sampai saat ini belum melengkapi persyaratan. Salah satu klub tersebut adalah klub besar. "Ada yang belum memenuhi syarat harus memiliki dokumen badan hukum berbentuk PT," katanya.

    Saat proses verifikasi klub-klub calon peserta kompetisi Agustus lalu ada dua klub yang belum memiliki dokumen badan hukum berbentuk perseorang terbatas yang telah disahkan Kementerian Hukum dan HAM. Kedua klub itu adalah Semen Padang dan Persipura Jayapura. Namun belakangan Semen Padang telah memenuhi syarat.

    Sihar enggan berkomentar ketika dikonfirmasi apakah klub yang bakal terganjal syarat harus memiliki badan hukum berbentuk perseroan terbatas itu adalah Persipura Jayapura. "Saya tidak bisa bilang. Tapi ada beberapa klub yang di Kementerian Hukum dan HAM belum lolos," katanya.

    Namun Sihar mengatakan klub-klub yang belum memenuhi syarat tersebut masih memiliki waktu hingga pukul 12.00 WIB besok. Jika hingga tenggat tersebut klub belum melengkapi dokumen yang diminta, kata Sihar, "Akan ada kejutan karena hanya yang dokumennya lengkap yang kami loloskan."

    Meski begitu Sihar tak bisa memastikan seperti apa keputusan besok. Pihaknya sendiri memiliki dua opsi. Opsi pertama menerapkan aturan yang diberikan AFC secara ketat. Jika aturan ini yang dipakai, beberapa klub, termasuk klub besar yang tak lengkap dokumennya, bakal tak lolos verifikasi. "Ini jika kita ingin ikut Liga Champhions Asia," katanya.

    Opsi kedua adalah memasukkan ke-24 klub sebagai peserta kompetisi meski ada beberapa diantara klub-klub itu yang tak memenuhi persyaratan. Jika opsi ini yang dipilih, kata Sihar, klub teratas dalam kompetisi nanti tak bisa ikut serta dalam Liga Champions Asia. "Kami belum tahu akan seperti apa," katanya.

    Namun memilih opsi kedua ini pun bukan perkara mudah. Sebab jika PSSI memutuskan 24 klub sebagai peserta kompetisi, akan ada ancaman kongres luar biasa (KLB). Ancaman ini datang dari Ketua Komite Hukum PSSI, La Nyala Mattaliti.

    Ia mengatakan akan menuntut digelarnya KLB jika PSSI memasukkan 24 klub sebagai peserta kompetisi. La Nyala menilai keputusan memasukkan 24 klub sebagai peserta kompetisi menyalahi statuta. "Begitu diputuskan 24 klub, baru kami bergerak," katanya.

    Rapat Komite Eksekutif PSSI 22 September lalu memutuskan kompetisi akan diikuti maksimal 24 klub. Keputusan ini, menurut La Nyala, bertentangan dengan statuta. Ia menilai jumlah peserta kompetisi seharusnya 18 klub. "Keputusan itu sudah melanggar," katanya.

    DWI RIYANTO AGUSTIAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.