Socrates, Ikon Brasil Tanpa Piala Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Socrates Oliveira (1986).  REUTERS/Wolfgang Rattay

    Socrates Oliveira (1986). REUTERS/Wolfgang Rattay

    TEMPO Interaktif, Rio de Janeiro – Bekas kapten tim nasional Brasil, Socrates yang meninggal dunia karena kerusakan organ di usia ke-57, Minggu (4/12), merupakan seorang gelandang yang elegan di masa jayanya.

    Lelaki berijazah dokter yang merupakan pecandu alkohol dan rokok ini kehilangan nyawanya setelah sempat dilarikan ke rumah sakit untuk kali ketiga sejak Agustus lalu karena masalah hati dan usus.

    Socrates yang pernah bekerja sebagai dokter dan menjadi pengamat sepakbola sejak gantung sepatu, pernah mengakui pada September lalu bahwa alkohol merupakan penyebab utama penyakitnya.

    “Saya seorang alkoholik…siapapun yang mengkonsumsi alkohol setiap hari adalah seorang alkoholik. Saya memiliki ketergantungan terhadap alkohol,” katanya dalam wawancara dengan stasiun televisi Brasil, Globo, sambil menambahkan bahwa dirinya telah berhenti menenggak minuman keras tiga bulan sebelumnya.

    Lelaki yang identik dengan wajah brewok yang dijuluki “Magrao” (Si Kurus Besar) ini mengibarkan namanya di Brasil dengan membantu Corinthians memenangi kejuaraan Sao Paulo pada 1979, 1982 dan 1983.

    Socrates sangat berperan dalam menentang kediktatoran pemerintah militer Brasil saat itu dengan memprakarsai manajemen demokratis di klub itu.

    Kepengurusan klub yang berada di tangan pemain yang dikenal dengan nama Demokrasi Corinthians itu menjadi pukulan telak bagi pemerintah militer di masa-masa tegang yang memicu kembalinya Brasil ke sistem demokrasi pada 1985.

    Socrates dianggap sebagai salah seorang bintang Brasil pada masanya bersama Zico yang merupakan rekannya di lini tengah.

    Di Piala Dunia 1982 di Spanyol, Socrates menjadi salah satu ikon timnas Brasil yang dinilai sebagai yang paling berseni dan menghibur sepanjang sejarah negara sepakbola itu.

    Tim yang terdiri dari nama-nama besar seperti Zico, Falcao dan Junior ini membukukan 15 gol dalam lima pertandingan di turnamen itu dan menjadi simbol sepakbola menyerang gaya samba yang hingga sekarang lekat dengan Brasil.

    Tapi, tim itu tak pernah benar-benar meraih sukses karena kemudian mereka kalah 3-2 dari Italia di fase grup kedua dan tendangan penalti Socrates yang luput dalam kekalahan Brasil dari Prancis di perempat final Piala Dunia 1986 membuat pemain itu tak pernah menyandang status sebagai juara Piala Dunia.

    REUTERS | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.