Begini Resep Jitu Rahmad Darmawan Gembleng Pemain  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rahmad Darmawan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Rahmad Darmawan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO Interaktif, Bandung - Tangan dingin pelatih Rahmad Darmawan kala membesut Persipura Jayapura; Sriwijaya FC; dan terakhir, tim nasional U-23; masih lekat di ingatan publik sepak bola Tanah Air dan para pemain binaannya. Bagaimana kiat Rahmad menggembleng anak-anak asuhannya sebagai individu maupun tim?

    Dalam sebuah diskusi tentang kepelatihan di Bandung, Sabtu, 17 Desember 2011, Rahmad sempat berbagi resep dengan sejumlah pelatih klub junior peserta Liga PR. Dan inilah kiat melatih yang menurut pria kelahiran Lampung tahun 1966 itu paling pas diterapkan di Indonesia, khususnya demi pembinaan pemain usia dini.

    Pertama, kata Rahmad, tetap terapkan pelatihan teknik dasar pemain dan skill pemain agar kemampuan pemain bisa meningkat setiap hari. Selain itu, pelatihan untuk mengkondisikan taktik membangun serangan dari bawah melalui passing-passing pendek dan pergerakan di semua lini permainan.

    "Conditioning taktik main efektif dan sederhana dalam main, jangan melakukan dribbling yang tak perlu, terutama di lini pertahanan sendiri dan di lapangan tengah," ujar Rahmad. "Hindari pula permainan bola long passing, kecuali dalam kondisi untuk crossing (umpan silang menuju jantung pertahanan lawan)."

    Seorang pelatih, Rahmad melanjutkan, juga pantang melupakan pentingnya variasi dalam latihan hari demi hari. Variasi dalam pemanasan hingga tahap latihan yang lebih tinggi, akan menjaga animo pemain untuk tetap semangat menggembleng diri.

    "Seorang pelatih juga jangan pernah merasa diri menjadi bagian paling penting dalam tim. Tekankan bahwa pelatih cuma bagian penting seperti halnya seorang pemain dalam tim," ujarnya. "Binalah saling ketergantungan bersifat simbiosis mutualisme antara pelatih-pemain dengan terus memperbaiki kualitas komunikasi yang bagus dengan anak didik.

    Rahmad juga menyebut kualitas infrastruktur lapangan dan kompetisi sebagai faktor penting pembinaan pemain usia dini. Kualitas lapangan, kata dia, berpengaruh banyak terhadap efektivitas permainan.

    Permainan sepak bola efektif yang menekankan sentuhan cepat dari kaki ke kaki butuh lapangan yang baik. "Ada anggapan pemain Indonesia ini lamban karena selalu bola itu harus dikontrol dulu lalu bisa passing karena kondisi lapangannya jelek," kata Rahmad. "Akhirnya, kebiasaan-kebiasaan bermain di lapangan yang jelek itu terbawa saat main di lapangan yang bagus, termasuk di ajang internasional, sehingga permainan tidak efektif."

    Rahmad juga menyebut urgensi kompetisi sesuai kelompok umur yang bersifat reguler. Sayangnya, Indonesia tak punya kompetisi berjenjang serupa yang sudah lumrah digelar di banyak negara maju sepak bola itu.

    Di Indonesia, kata dia, barulah kompetisi untuk pemain senior yang selama ini berjalan reguler. "Tak heran bila kebanyakan pemain Indonesia baru kelihatan bagus ketika usianya sudah 26-27 tahun. Jarang pemain yang performa terbaiknya muncul di awal usia 20-an," ujar Rahmad.

    ERICK P. HARDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.