Corradi dan Kisah Morosini yang Getir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepakbola Livorno Piermario Morosini mendapatkan bantuan dari tim medis saat ia terjatuh di lapangan dalam pertandingan Serie B melawan Pescara di stadion Adriatico di Pescara, Italia, Sabtu (14/4). REUTERS/Fabio Urbini

    Pesepakbola Livorno Piermario Morosini mendapatkan bantuan dari tim medis saat ia terjatuh di lapangan dalam pertandingan Serie B melawan Pescara di stadion Adriatico di Pescara, Italia, Sabtu (14/4). REUTERS/Fabio Urbini

    TEMPO.CO, Montreal - Penyerang Montreal Impact, Bernardo Corradi, mencetak gol perdananya di Liga Amerika Serikat, Sabtu malam, 14 April 2012. Meski sedikit senang, Corradi memendam getir. Ia masih teringat sobatnya yang meninggal, Piermario Morosini.

    Corradi dan Morosini berkawan sejak keduanya membela Udinese di Seri A Liga Italia pada 2009. Saat itu Morosini dipinjamkan dari Livorno. Gelandang berusia 25 tahun ini meninggal karena serangan jantung pada pertandingan Seri B Liga Italia antara Livorno melawan Pescara, Sabtu. Akibat tewasnya Morosini, Federasi Sepak Bola Italia menunda seluruh pertandingan di Negeri Pizza itu.

    Bagai petir di siang bolong, kabar meninggalnya Morosini datang beberapa saat sebelum Corradi bermain. Padahal Corradi baru mulai meniti kariernya di Montreal. Dalam laga melawan FC Dallas, Corradi tampil sebagai pemain inti Montreal untuk ketiga kali dalam enam pertandingan bersama Montreal musim ini. Akan tetapi, ujung tombak berusia 36 tahun ini bermain dengan memikul duka.

    Meski mencetak gol pada menit ke-61 ke gawang FC Dallas, Corradi masih berat melupakan kenangan Morosini.

    “Ini merupakan hari yang aneh bagi saya. Sebab, saya kehilangan salah seorang sahabat saya,” ujar Corradi kepada MLSSoccer.com seusai pertandingan. “Kami bermain bersama selama setahun. Dia biasanya datang ke rumah saya untuk makan malam. Sebab, saya tahu ia punya latar belakang yang tidak menyenangkan.”

    “Ia kehilangan kedua orang tuanya, saudaranya, namun ia tetap tegar. Ia selalu tersenyum meski kehidupannya getir,” kata Corradi.

    Morosini kehilangan ibunya ketika ia masih berusia 15 tahun. Ayahnya meninggal dua tahun kemudian. Sementara saudaranya yang cacat bunuh diri. Selama itu, Morosini hidup bersama kakak perempuannya yang juga cacat.

    Mental Corradi sempat ciut mendengar berita kematian Morosini. Corradi pun enggan turun ke lapangan. Namun pelatih kepala Montreal, Jesse Marsch, mengatakan kepada Corradi bahwa cara terbaik untuk menghormati Morosini adalah bermain di lapangan.

    “Saya selalu senyum. Saya selalu gembira. Karena itu, mereka bertanya kepada saya mengapa sikap saya berubah hari itu,” ujar Corradi. “Saya menjelaskan alasannya. Lalu Jesse datang kepada saya dan meminta saya bermain untuk Morosini. Saya memang mencetak gol, tetapi ada perasaan yang mengganjal.”

    Sempat memimpin lewat gol Corradi, Montreal akhirnya kalah 1-2 dari FC Dallas.

    NATIONALPOST | KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.