Nilmaizar Tetap Pelatih Kepala Timnas, Kata Hippy  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih baru timnas Indonesia asal Argentina Luis Manuel Blanco (tengah) bersama Ketua Umum PSSI Djohar Arifin (kiri) dan Dubes Argentina Javier Sanz de Urquiza. ANTARA/Dhoni Setiawan

    Pelatih baru timnas Indonesia asal Argentina Luis Manuel Blanco (tengah) bersama Ketua Umum PSSI Djohar Arifin (kiri) dan Dubes Argentina Javier Sanz de Urquiza. ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator tim nasional Indonesia, Bob Hippy, menegaskan bahwa Nilmaizar akan tetap menjadi pelatih kepala timnas Indonesia meski Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin, menunjuk Luis Manuel Blanco sebagai pelatih timnas beberapa waktu lalu.

    Djohar tidak memerinci apakah jabatan pria asal Argentina itu sebagai pelatih kepala, atau sekadar menjadi penasehat pelatih timnas. Tapi Blanco mengatakan dirinya telah ditunjuk menjadi pelatih kepala timnas untuk Kualifikasi Piala Asia 2015.

    Ketidakpastian sikap itu yang kemudian membuat Nilmaizar menjadi gamang, karena sampai saat ini PSSI belum mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Nil akan dipecat, atau hanya digeser menjadi asisten pelatih. "Tapi sekarang bisa saya katakan, 3.000 persen Nilmaizar tetap melatih timnas," kata Bob Hippy, Senin, 11 Februari 2013.

    Mengenai posisi Blanco di struktur kepelatihan timnas, Bob tidak memerincikannya. "Bagaimana saya bisa menggunakan jasanya, jika saya tidak pernah tahu rekam jejaknya seperti apa?" ujar Bob lagi.

    Penunjukan Blanco sebagai pelatih timnas memang menunjukkan ketidakharmonisan di organisasi PSSI. Pasalnya, penunjukan Blanco sebagai pelatih kepala oleh Djohar Arifin Husin tidak melewati mekanisme rapat Komite Eksekutif PSSI. Walhasil, beberapa anggota Komeks PSSI seperti Sihar Sitorus dan Bob Hippy menolak keputusan Djohar.

    ARIE FIRDAUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.