Rumput Old Trafford pun Dikoleksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pendukung Manchester United merayakan gelar juara Liga Primer Inggris ke-20 yang diperoleh MU setelah menghajar Aston Villa 3-0 di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, Senin (22/4). AP/Jon Super

    Sejumlah pendukung Manchester United merayakan gelar juara Liga Primer Inggris ke-20 yang diperoleh MU setelah menghajar Aston Villa 3-0 di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, Senin (22/4). AP/Jon Super

    TEMPO.CO, Jakarta--Majalah Tempo edisi April 2003 memotret 'kegilaan' para suporter tim bola Eropa di Indonesia. Samuel Rismana, Presiden IndoManutd, kelompok suporter Manchester United di Indonesia, yang beranggotakan sekitar 300 orang, tidak hanya senang pergi ke Old Trafford. Persinggungan pegawai di perusahaan alat-alat pertukangan ini dengan The Red Devils lebih dalam lagi.

    Bila jumlah kumpulan merchandise yang menjadi ukurannya, hal itu menjadi sangat tidak berarti. Ribuan koleksinya sudah menyesaki rumahnya di kawasan Pecah Kulit, Jakarta Barat, dan di Bandung, Jawa Barat. Daripada ngejogrok tak keruan, sebagian besar koleksinya dipajang sebagai galeri yang bebas dikunjungi siapa saja. "Wah, saya sudah enggak tahu lagi berapa uang yang saya keluarkan," katanya.

    Yang jelas, koleksinya pun unik. Misalnya, ada sejumput rumput Old Trafford yang dikemas dalam kristal. Yang paling membanggakannya: sehelai poster besar berisi 29 pemain legenda plus tanda tangan aslinya. Ia membelinya saat berkunjung ke Old Trafford tiga tahun lalu dengan harga Rp 6-7 juta. Mahal, memang. Maklumlah, poster ini dicetak sekitar 300 lembar saja.

    Samuel mengaku untuk urusan berburu koleksi tidak ada kata berhenti. Terkadang dia mengikuti lelang barang-barang langka melalui internet, meski harganya menonjok langit. Misalnya, tiket pertandingan Crystal Palace-MU. Pertandingan itu istimewa. Dalam duel itu, Eric Cantona melepaskan tendangan kungfu ke penonton Crystal Palace. Dalam tiket itu disertakan foto dan tanda tangan Eric Cantona.

    Bagi awam, tentu tingkah Samuel ini bikin geleng kepala. Tapi dengan santai dia menyatakan, semua itu dilakukannya semata karena kecintaannya pada klub itu. "Saya tergolong die hard. Sampai kapan pun saya akan terus membela Manchester United."

    Namun, bukan soal koleksi yang jadi perhatian. Emosinya kadang tersulut bila jagoannya dilecehkan. Pernah suatu ketika dia mengirimkan SMS ke anggota IndoManutd untuk memprotes sebuah stasiun televisi hanya gara-gara stasiun itu dianggap kurang lengkap dalam memasang logo MU. "Coba lihat logo MU di belakang si pembawa acara itu tidak lengkap. Besok kita protes," begitu SMS yang terkirim ke beberapa penggemar MU lainnya.

    Tidak hanya itu, sempat pula dia mendatangi redaksi sebuah tabloid olahraga. Tujuannya, sama saja, dia mau memprotes. Kala itu yang membuat dia sewot adalah judul yang memelesetkan Man U, kependekan dari Manchester United, menjadi "Man Yoo". "Menyebut begitu kan sama saja dengan meledek," katanya sengit.

    Di luar itu semua, pengalaman yang dia rasakan amat membekas adalah ketika berada di antara puluhan ribu pendukung Old Trafford. Seolah berada dalam sebuah lautan, ia sama sekali tak merasakan perbedaan satu sama lain. Dalam bahasanya, berada di Old Trafford seolah berada di tempat yang suci. "Saya bisa merasakan atmosfer yang sama sekali lain," katanya.

    Kenikmatan itu hanya bisa dibeli oleh segunung duit. Namun, sejatinya, hal seperti itulah yang kini tidak saja didambakan Caroline tapi juga penggila bola lainnya. Simak edisi khusus fans bola.

    IRFAN BUDIMAN

    Terhangat:

    Teroris
    | E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


    Baca juga:
    Moyes Resmi Gantikan Ferguson di MU

    Moyes Bangga Ditunjuk Jadi Pengganti Ferguson

    FC Barcelona Luncurkan Situs Bahasa Indonesia

    Kesal, Ronaldo Sempat Mengumpat Mourinho


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.