FIFA Bentuk Gugus Tugas Atasi Rasialisme Bola

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mario Balotelli. heraldsun.com.au

    Mario Balotelli. heraldsun.com.au

    TEMPO.CO, Roma - Teriakan penonton mirip suara monyek untuk mengolok-olok pemain berkulit hitam kembali terjadi Liga Seri A Italia, Ahad lalu, 12 Mei 2013, saat AC Milan menghadapi tamunya tim AS Roma. Para pemain kulit hitam AC Milan menjadi sasaran olok-olok suporter AS Roma dengan teriakan meniru suara monyet.

    Tindakan rasialis tersebut mengingatkan kejadian  Januari 2013 lalu pada pertandingan persahabatan AC Milan melawan Pro Patria. Dua pemain Milan,  Mario Balotelli dan Kevin-Prince Boateng, menjadi sasaran perlakuan rasialis tersebut.

    Kejadian itu membuat Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) menerapkan aturan baru untuk membantu wasit mengatasi masalah tersebut. Dalam aturan baru itu disebutkan bahwa panitia dapat menghentikan pertandingan dan memberikan pengumuman melalui pengeras suara di stadion berisi imbauan agar penonton menghentikan teriakan atau tindakan yang bersifat rasialis itu.

    Bila pengumuman itu tidak dapat menghentikan tindakan rasialis penonton, maka pihak berwenang dalam pertandingan tersebut dapat menghentikan pertandingan itu

    Pada Maret 2013 lalu, FIFA mengumukan satu gugus tugas baru untuk memerangi tindakan diskriminasi dalam suatu pertandingan. Boateng, wasit asal Inggris Howard Webb, dan Ketua Eksekutif Football Association (Persatuan Sepak Bola Inggris), David Bernstein, menjadi anggotanya.

    BBC | AGUS BAHARUDIN

    Topik Terhangat:
    Teroris |
    E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


    Berita Lainnya:

    Wiji Thukul, Koor Kapel dan Koo Ping Hoo
    Asal-usul Nama Wiji Thukul
    Teka-teki Wiji Thukul, Tragedi Seorang Penyair
    Buruh Pabrik Panci Takut Lihat Aparat Berseragam 
    Kencan Pertama? Ini Cara Mengusir Grogi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.