Jangan Sebut Kami Fan FC Hollywood!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pemain klub Bayern Munchen merayakan kemenangannya dalam laga Bundesliga Jerman di Munich, Germany, (11/5). (AP Photo/dpa, Andreas Gebert)

    Sejumlah pemain klub Bayern Munchen merayakan kemenangannya dalam laga Bundesliga Jerman di Munich, Germany, (11/5). (AP Photo/dpa, Andreas Gebert)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi Anda yang bukan penggemar Bayern Munchen, jangan sekali-kali menyebut penggemar Die Roten sebagai suporter FC Hollywood. Kendati Anda tidak bermaksud apa-apa, itu bisa menyulut masalah.

    Sebab pertama, FC Hollywood bukan julukan yang diklaim sendiri oleh Munchen, melainkan oleh pendukung atau klub lain. Kedua, dan ini masalah pokoknya, "Ndak semua punggawa atau suporter Bayern Munchen suka dengan istilah FC Hollywood. Karena agak sedikit 'negatif'," kata Ketua FC Bayern Fan Indonesia Pusat Iwan Nasution. "Itu hanya julukan yang sebenarnya menyentil."

    Menurut Iwan, "FC Hollywood" baru belakangan muncul. Julukan itu memojokkkan Munchen sebagai klub glamor penuh bintang. Macam Hollywood di Amerika Serikat yang dipenuhi bintang dunia hiburan.

    "Bayern Munchen memang terlahir dan berada di salah satu kota makmur, salah satu kota yang kinclong di Jerman," kata Iwan. "Ya negatifnya semua klub di Jerman menjadi musuh bersama bagi Bayern Munchen." Beberapa industri besar bermarkas di kota Munchen macam BMW, Allianz, Audi, Siemens, Puma, sampai Adidas.

    Simon Kuper dalam Soccernomics: Why England Loses, Why Germany and Brazil Win, and Why the US, Japan, Australia, Turkey—and Even Iraq—Are Destined to Become the Kings of the World’s Most Popular Sport pada 2009 menegaskan pernyataan Iwan. Sejak 1980-an klub mulai menerima pendapatan lebih dari kontrak hak siar televisi. Beberapa tim Eropa mulai merenovasi stadionnya agar mampu menampung banyak penonton demi meraup makin banyak uang. Klub-klub yang sudah besar saat itu makin besar, Munchen salah satunya.

    "Setelah itu klub-klub kecil seperti Gladbach--rival sekota Munchen--tak mampu menahan lebih lama pemain-pemain terbaiknya," tulis Kuper. Borussia Mönchengladbach hanya mampu menahan Lothar Matthaus sampai umur 23 tahun sebelum dibeli Munchen pada 1984.

    Sementara itu bintang muda Munchen tak pernah keluar karena mereka mampu memberi gaji tinggi. Sejak itulah, Munchen jadi public enemy bagi klub-klub Jerman lainnya, lantaran Die Roten yang paling berduit. Persis ketika "FC Hollywood" membebaskan kontrak aset paling berharga Dortmund, Mario Gotze, akhir April lalu.

    KHAIRUL ANAM

    Topik Terhangat:

    Teroris | E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh

    Baca Juga:
    Ibrahimovic Tegaskan Tetap di PSG

    Sturridge Belajar Banyak dari Drogba 

    Giggs: Ferguson Bagian dari Hidup Saya  
     



     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.