FIFA Miliki Anggota Komeks Perempuan Pertama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Christian Hartmann

    REUTERS/Christian Hartmann

    TEMPO.CO, Zurich – Presiden Federasi Sepak bola Burundi, Lydia Nsekera terpilih sebagai perempuan pertama yang menjabat anggota Komite Eksekutif Federasi Sepak bola Internasional (FIFA), setelah mengalahkan beberapa pesaing seperti Moya Dodd dari Australia dan Sonie Bien-Aime asal Kepulauan Turks dan Caicos.

    Perempuan 46 tahun yang juga menjabat anggota Komite Olimpiade Internasional itu mengumpulkan 95 suara, atau unggul 25 suara dari Dodd yang berada di posisi kedua. Adapun Sonia di posisi ketiga dengan hanya 38 suara. Semula terdapat empat calon perempuan yang memperebutkan posisi tersebut, namun seorang di antaranya, yaitu Paula Kearns asal Selandia Baru mengundurkan diri jelang pemilihan.

    “Dengan terpilihnya saya di posisi ini, saya ingin meningkatkan kesadaran perempuan sehingga mereka berani maju dan terpilih sebagai pemimpin dalam suatu organisasi penting,” kata Lydia Nsekera, usai terpilih.

    FIFA yang dibentuk pada 1904, selama ini memang dikenal sebagai organisasi “kolot” dan lamban dalam menjalankan reformasi organisasi. Bahkan jelang pemilihan anggota komeks, Presiden FIFA Joseph Blatter mengeluarkan pernyataan kontroversial yang memojokkan kaum perempuan. “Bicaralah, ladies! Kalian biasanya hanya berbicara di rumah, tapi sekarang kalian bisa bersuara di sini (FIFA),” kata Blatter, yang kemudian disambut kritik pelbagai pihak.

    Tidak hanya itu, seusai pengumuman Nsekera sebagai pemenang, pria Swiss itu pun kemudian membandingkan Nsekera yang berasal dari Burundi dan berkulit gelap dengan Moya Dodd yang berasal dari Australia dan berkulit putih dengan deskripsi “good and good-looking”.

    GUARDIAN | ARIE FIRDAUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.