Pengaturan Skor, Fenerbahce Terancam Sanki UEFA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepakboa Fenerbahce Dirk Kuyt. REUTERS/Jose Manuel Ribeiro

    Pesepakboa Fenerbahce Dirk Kuyt. REUTERS/Jose Manuel Ribeiro

    TEMPO.CO, Nyon - Klub raksasa Turki, Fenerbahce, terancam mendapat hukuman dari Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) setelah lima petingginya terlibat dalam skandal pengaturan skor. Salah satu dari petinggi itu adalah, Aziz Yildrim, Presiden Fenerbahce.

    "Setelah investigasi pengaturan skor yang diduga melibatkan Fenerbahce, Komisi Displin UEFA telah menyerahkan hasil penyelidikannya, dalam hal proses disipliner terhadap klub serta lima pejabat mereka," tulis pernyataan resmi UEFA, Selasa, 11 Juni 2013.

    Sidang terhadap lima petinggi Fenerbahce itu akan dilakukan pada 22 Juni mendatang di markas besar UEFA di Nyon, Swiss. "Kasus ini akan digelar Komisi Disiplin UEFA pada Sabtu, 22 Juni," ujar UEFA. Sementara keputusan baru dikeluarkan pada pekan selanjutnya.

    Jika terbukti bersalah, Fenerbahce akan menerima sanksi dari UEFA untuk kedua kalinya. Sebelumnya, klub yang bermarkas di Sukru Saracoglu Stadium itu dilarang tampil di Liga Champions musim 2011/2012 karena terbukti terlibat dalam skandal pengaturan skor.

    Selain Fenerbahce, Besiktas juga terancam sanksi dari UEFA. "Penyelidikan juga telah dilakukan terhadap Besiktas dan dua pejabat klub, sehubungan dengan kegiatan pengaturan hasil pertandingan yang diduga terjadi pada final Piala Turki 2011," tutur UEFA.

    DAILY MAIL | SINGGIH SOARES

    TOPIK Terhangat
    Priyo Budi Santoso
    | Rusuh KJRI Jeddah | Taufiq Kiemas | Cinta Soeharto Bangkit? | Pemukulan Pramugari

    Baca Juga:
    Derby Bandung, Persib Turunkan Van Dijk-Kenji

    Fabregas Tegaskan Tetap di Barcelona

    Parma: Harga Belfodil Tak Kurang dari Rp 143 M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.