Preview Final Konfederasi: Faktor Maracana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepakbola Brasil Fred (tengah) berhasil melewati pesepakbola Italia Giorgio Chiellini dan kiper Gianluigi Buffon (kanan) untuk mencetak gol dalam pertandingan Piala Konfederasi di Arena Fonte Nova, di Salvador, Brasil, Sabtu (22/6). REUTERS/Kai Pfaffenbach

    Pesepakbola Brasil Fred (tengah) berhasil melewati pesepakbola Italia Giorgio Chiellini dan kiper Gianluigi Buffon (kanan) untuk mencetak gol dalam pertandingan Piala Konfederasi di Arena Fonte Nova, di Salvador, Brasil, Sabtu (22/6). REUTERS/Kai Pfaffenbach

    TEMPO.CO, Rio de Janeiro - Tidak bakal ada Maracanazo di final Piala Konfederasi nanti, bahkan jika Brasil kalah dari Spanyol sekalipun. Pasalnya, Spanyol bukanlah Uruguay 1950 yang underdog. Spanyol dan Brasil sekarang, dua-duanya merupakan tim yang relatif sama kuat.

    Brasil memang sedikit diunggulkan karena dukungan suporter tuan rumah. Andai pun, Brasil seakan mustahil bisa mengulang kedigdayaannya ketika mengalahkan Spanyol di tempat yang sama, 63 tahun lalu.

    Saat itu, Brasil mengalahkan Spanyol dengan skor biadab: 6-1. Di era itu, Brasil adalah kiblat sepak bola dunia.

    "Mereka adalah ayah dari sepak bola modern," kata pelatih Spanyol saat ini, Vicente Del Bosque, kepada AS, Sabtu, 29 Juni 2013. "Bagi generasi saya, mereka adalah titik acuan. Mereka telah mendominasi pertandingan internasional dan mereka selalu menunjukkannya di atas lapangan."

    Meski begitu, Del Bosque percaya era itu sudah berlalu dan kini Spanyol-lah yang memegang status "ayah dari sepak bola modern". Namun pada bentrok final Minggu besok, Del Bosque mengakui bahwa timnya justru tidak lebih baik dari tuan rumah Brasil.

    "Bahkan saya lelah dan hampir tidak bisa bergerak, jadi bayangkan bagaimana yang dirasakan para pemain kami," kata Del Bosque seperti dikutip Give Me Sports. "Saya tidak mencari-cari alasan. Kami punya waktu istirahat 72 jam, yang lain (Brasil) sedikit lebih banyak, tapi kami ingin memberikan pertunjukan yang bagus."

    Selain dukungan suporter, faktor yang membuat Brasil lebih favorit adalah kebugaran para pemain. Brasil punya waktu istirahat sehari lebih lama daripada Spanyol, yang pada semifinal lalu harus bertanding selama 120 menit!

    Namun begitu, Del Bosque menjamin timnya tidak akan takut dengan teror stamina pemain, iklim yang lembab, dan suporter tuan rumah. Del Bosque memastikan Spanyol sama sekali tidak akan mengubah cara bermain mereka, tiki-taka.

    "Kami akan bermain dengan keberanian, keberanian dan tanpa takut--dengan menghormati identitas kami sendiri dan gaya bermain kami," ujar Del Bosque. "Kami memang harus ingat tim yang akan kami lawan tapi itu tidak akan mengubah permainan kami sendiri dan menyesuaikannya dengan mereka. Pada tahap ini, kami tidak bisa main-main atau kehilangan jati diri kami."

    Sama seperti Del Bosque, pelatih tim nasional Brasil mengaku sama sekali tidak takut dengan nama besar Spanyol, juara Eropa dan dunia. Scolari melihat kini kekuatan antara kedua tim sama sekali setara meskipun Spanyol punya dasar pemain yang sudah sangat kompak selama enam tahun terakhir.

    "Saya tidak menganggap Spanyol favorit," katanya seperti dikutip ESPN. "Tentu saja, mereka telah memenangkan dua Euro dan Piala Dunia serta punya dasar tim yang sama, hanya mengambil beberapa pemain selama enam tahun terakhir. Itu keuntungan. Tapi kita akan berada di rumah, di depan penggemar yang luar biasa. Dan, yang terpenting, kami telah mengembalikan kredibilitas kami."

    Scolari memang datang ke kursi pelatih Brasil saat Selecao sedang tertatih-tatih. Sebelum menggantikan Mano Menezez pada November tahun lalu, Brasil kalah tiga kali, seri sekali, dan menang secara susah payah dari Afrika Selatan. Bahkan Scolari tidak benar-benar mengesankan di awal kepelatihannya yang kedua di Selecao--setelah memberi juara dunia 2002--ketika hanya sekali menang dari enam pertandingan pertamanya.

    "Jadi banyak yang tidak percaya pada kami saat memulai turnamen ini (Piala Konfederasi)," kata kapten tim Thiago Silva setelah kemenangan atas Uruguay di semifinal. "Tapi sekarang kami di final. Dan bahkan jika kami tak ke final pun, saya pikir sangat positif bekerjasama dengan Scolari. Hal terbesar yang dia (Scolari) beri? Akan kukatakan, terlepas dari keyakinan diri, itu adalah kesabaran."

    Kemenangan Brasil atas Uruguay di semifinal lalu, setidaknya telah mengusir roh-roh jahat Piala Dunia 1950. Brasil juga unggul kebugaran pemain dan dukungan suporter tuan rumah. Satu-satunya jalan buat Spanyol melawan Brasil di stadion mereka yang paling keramat, Maracana, Minggu, 1 Juli 2013, besok pagi, mungkin hanya dengan mengubah sebagian starting XI--dengan risiko tiki-taka yang tak sempurna.  

    Prakiraan Starting XI
    Brasil: Cesar; Alvez, Silva, Luiz, Marcelo; Gustavo, Paulinho; Hulk, Oscar, Neymar; Fred.

    Spanyol: Casillas; Arbeloa, Ramos, Pique, Alba; Fabregas, Busquets, Cazorla; Navas, Soldado, Mata.

    AS | ESPN | GIVE ME SPORTS | WHO SCORED | KHAIRUL ANAM

    Baca juga:
    Pemain Madrid Namai Anjingnya 'Messi'
    Maradona Tak Kapok Datang ke Indonesia
    Manchester United Siap Naikkan Gaji De Gea
    Hadapi Uruguay, Italia Krisis Pemain


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto