Maradona Keasyikan Sampai Lupa Waktu di Surabaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diego Armando Maradona. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Diego Armando Maradona. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Meski usianya sudah setengah abad lebih, 52 tahun, dan badannya bertambah subur, legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, masih terlihat lincah dan gesit saat mengajari anak-anak bagaimana menggiring dan mengoper bola yang baik. Begitu antusiasnya dalam mengajari anak-anak di Lapangan Tugu Pahlawan, Surabaya, Selasa siang, Maradona sampai lupa waktunya sudah habis.

    Klinik kepelatihan Maradona itu diikuti 150 anak-anak dan remaja. Mereka kebanyakan dari sekolah sepak bola di Surabaya dan sekitarnya. Seperti halnya Maradona, anak-anak itu juga sangat antusias menyerap ilmu bermain sepak bola dari sang maestro lapangan hijau tersebut.

    Anak-anak itu sudah datang ke lapangan sejak pukul 08.00 Wita dan lapangan sempat diguyur hujan. Mereka dengan setia menunggu, meskipun Maradona baru muncul sekitar pukul 12.00 WIB.

    Mendung masih menyelimuti kawasan tersebut dan gerimis tak juga berhenti. Namun, Maradona tak ingin berlama-lama dan berbasa-basi di panggung kehormatan. Bintang Piala Dunia 1986 ini turun dari panggung ke lapangan rumput yang masih basah setelah disiram hujan. Maradona pun segera berbaur dengan anak-anak di tengah lapangan yang telah tiga jam lebih menantikan kedatangannya.

    Empat kelompok peserta bergiliran mendapatkan ilmu memainkan bola dari sang legenda. Pada kelompok pertama, belasan anak mendapatkan ilmu bagaimana menggiring bola dengan benar. Maradona kemudian menggiring bola ala tango yang lalu ditiru oleh peserta.

    Sang bintang sepak bola dunia itu langsung mengawasi sendiri bagaimana anak-anak mempraktekkan apa yang dia contohkan. Tak lama kemudian, Maradona bergeser ke kelompok kedua.

    Di kelompok kedua ini, Maradona juga mengajari bagaimana menggiring bola dengan baik. Maradona juga mengajarkan bagaimana menendang bola dengan benar.

    Anak-anak itu memperhatikan dengan seksama bagaimana Maradona menendang bola. Di sini Maradona tidak sekedar memberi contoh. Namun juga mengoreksi langsung jika ada anak yang kurang benar dalam menendang bola.

    "Setelah menggiring bola dan berancang-ancang menendangnya, harus ada kuda-kuda," kata Maradona. Berulang kali Maradona berteriak dan mengacungkan jempolnya pertanda intruksinya diikuti dengan benar.

    Pada kelompok ketiga, Maradona mengajari anak-anak menendang bola ke gawang yang dijaga kiper. Hal sama yang dilakukan di kelompok sebelumnya. Kemudian di kelompok empat, yang berisikan pemain remaja, Maradona mengajari bagaimana memainkan bola dengan satu dua sentuhan dan kemudian mengopernya secara cepat. "Gol dengan sendirinya akan tercipta kalau kalian bermain dengan benar. Fokus pada bola dulu," katanya.

    Begitu asyiknya anak-anak mengikuti Maradona sampai tak terasa waktu bergulir 45 menit. Maradona pun terlupa kalau waktu mengajarnya sudah habis, sehingga panitia harus mengingatkannya.

    Acara Maradona di Tugu Pahlawan Surabaya itu disaksikan ratusan orang dan berlangsung tertib. Jepretan kamera dan bidikan handycam terus mengikuti gerak-gerik Maradona. Penonton dan watawan mematuhi permintaan panitia agar tetap menjaga jarak dari Maradona demi keamanannya.

    Permintaan Maradona agar lapangan hanya diisi oleh anak-anak juga diikuti dengan baik. Karena itulah, Maradona mengucapkan terima kasihnya kepada anak-anak dan penonton begitu acara usai.

    Yoga, 12 tahun, salah satu peserta coaching clinic itu mengaku sangat senang dapat mengikuti acara tersebut. "Saya mendapat ilmu bagaimana dribling, shooting, dan passing yang baik," kata siswa Sekolah Sepak Bola Mitra Surabaya ini.

    Yoga mengaku merinding ketika berdekatan dan berkesempatan belajar sepak bola langsung dari Maradona. "Saya takut membuat kesalahan di hadapannya," kata Yoga.

    Para orangtua yang mengantar anak-anak mereka juga mengaku senang walaupun harus menunggu lama di lapangan. "Sudah sejak jam tujuh anak-anak ada di lapangan. Tapi kami puas," kata Bambang, salah satu orangtua peserta.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.