Timnas di SEA Games, dari Ribut sampai Pahabol  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Tim Nasional Indonesia U-23, Ferinando Pahabol. TEMPO/Seto Wardhana

    Pemain Tim Nasional Indonesia U-23, Ferinando Pahabol. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di Jalan Karang Rejo, jalur utama menuju Stadion Jatidiri, Semarang, itu masih berdiri tegak. Patung ini dibikin oleh pemerintahan Kota Semarang untuk mengenang jasa Ribut sebagai pemain sepak bola yang mengharumkan nama Indonesia dan Semarang.

    Adalah Ribut yang membawa tim sepak bola Indonesia meraih medali emas di SEA Games 1987. Dalam pertandingan final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, penyerang dari tim PSIS ini mencetak gol tunggal ke gawang Malaysia dalam babak perpanjangan waktu.

    Ribut membobol gawang Malaysia setelah berhasil mengecoh dan melewati barisan pertahanan negeri jiran itu. Gol tunggal tersebut memberikan sejarah baru sepak bola Indonesia sejak pertama kali ikut SEA Games pada tahun 1977. Inilah emas pertama yang bisa diraih oleh tim sepak bola Indonesia dalam ajang SEA Games dan baru bisa diulangi oleh Yusuf Ekodono dan kawan-kawan di Manila, Filipina, 1991, dengan mengalahkan Thailand 4-3 dalam adu penalti.

    Kini Ribut sudah almarhum. Ia meninggal di Semarang, 3 Juni 2012, pada usia 49 tahun. Pelatih tim Indonesia di SEA Games 1987, Bertje Matulapelwa, juga sudah berpulang.

    Ribut dan kawan-kawan berhasil menebus kekalahan para seniornya, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, dan kawan-kawan pada final sepak bola SEA Games 1979 yang juga berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan menghadapi lawan yang sama, Malaysia. Saat itu, tim Indonesia yang ditangani oleh pelatih kenamaan dari Belanda, Will Coerver, kalah 0-1 karena gol dari penyerang Malaysia, Mokhtar Dahari, pada menit ke-21.

    Adapun salah satu hal istimewa dari skuad 1991 yang meraih emas di Stadion Rizal Memorial, Manila, adalah cara pelatih asal Rusia, Anatoly Polosin, dalam menangani Sudirman, Aji Santoso, Yusuf Ekodono, dan kawan-kawan. Polosin menggembleng fisik para pemainnya habis-habisan.

    Kemudian, dua tahun lalu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pelatih Rahmad Darmawan nyaris membawa tim Indonesia merebut emas yang ketiga--dan yang pertama sejak 22 tahun lalu--ketika kembali berhadapan dengan Malaysia di final. Hal itu terjadi ketika mereka sudah memimpin 1-0 melalui gol dari Gunawan Dwicahyo. Tapi, Malaysia berhasil menyamakan kedudukan sebelum pertandingan 90 menit berakhir. Pada perpanjangan waktu tidak terjadi perubahan. Lalu, pada adu penalti, skuad Rahmad kalah 3-4.

    Kini, di Naypyidaw, Myanmar, anak-anak asuhan RD--panggilan akrab pelatih Rahmad--kembali lolos ke final setelah imbang 1-1 sampai 120 menit. Setelah melalui perpanjangan waktu, akhirnya Indonesia berhasil menang 4-3 dalam adu penalti dengan gol yang menentukan dari Ferinando Pahabol. Sabtu mendatang, mereka ditantang apakah bisa menyusul jejak Ribut cs dan Aji cs di SEA Games.

    PRASETYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.