Di Balik Kisruh PSSI: Ada Rebutan Bisnis Hak Siar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan bonek, pendukung Persebaya 1927 melakukan konvoi di jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, (26/1). Konvoi yang di ikuti oleh ribuan pendukung Persebaya 1927 ini untuk melakukan aksi di depan Hotel Shangrila yang menjadi lokasi Konggres Tahunan PSSI. TEMPO/Fully Syafi

    Ratusan bonek, pendukung Persebaya 1927 melakukan konvoi di jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, (26/1). Konvoi yang di ikuti oleh ribuan pendukung Persebaya 1927 ini untuk melakukan aksi di depan Hotel Shangrila yang menjadi lokasi Konggres Tahunan PSSI. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tingginya potensi ekonomi sepak bola dalam negeri menyebabkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) jadi rebutan. Tumbangnya kubu reformis dan kembalinya para penguasa lama PSSI juga dilatarbelakangi oleh motif bisnis sepak bola. Salah satu lahan bisnis yang jadi rebutan adalah hak siar pertandingan liga (Baca selengkapnya di majalah Tempo).

    Pada 2007 pengurus PSSI era Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie menyerahkan hak siar Liga Indonesia pada ANTV. Stasiun televisi milik keluarga Bakrie itu memegang kontrak hak siar selama 10 tahun, mulai 2007 hingga 2016, dengan nilai Rp 10 miliar per musim. Di 2011 terjadi pergantian kepengurusan dan PSSI dikuasai oleh kelompok baru yang dimotori oleh pengusaha Arifin Panigoro. (baca:Djohar: Gonjang- Ganjing PSSI Sudah Selesai)

    Kubu reformis ini lantas melakukan sejumlah perubahan di tubuh PSSI. Salah satunya adalah memutus kontrak hak siar liga dengan ANTV yang dianggap terlalu murah. PSSI lantas menggelar tender hak siar liga, hasilnya MNC Group--grup media milik Hary Tanoesoedibjo menjadi pemenang hak siar dengan tawaran Rp 100 miliar per musim atau sepuluh kali lipat dari nilai kontrak dengan ANTV.

    Tidak hanya itu, rencananya nilai kontrak baru itu akan terus bertambah tiap tahun menjadi: Rp 200 miliar pada tahun kedua, Rp 400 miliar di tahun ketiga, dan Rp 600 miliar di tahun keempat.

    Pengamat sepak bola Indonesia dari Save Our Soccer (SOS) Apung Widadi mengatakan bahwa siaran Liga Indonesia memiliki potensi ekonomi sangat tinggi. Sehingga wajar jika nilai kontrak hak siarnya bisa mencapai ratusan miliar rupiah per musim. Alasannya sederhana, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penonton sepak bola terbesar di dunia. (baca juga:Cara Roy Suryo Tuntaskan Kisruh Sepakbola)

    Dan yang lebih penting, masyarakat Indonesia lebih suka menyaksikan pertandingan liga dalam negeri dibanding liga-liga luar negeri yang mahal nilai kontrak hak siarnya. Rating siaran Liga Indonesia jauh lebih tinggi dibanding Liga Inggris. "Wajar jika PSSI jadi rebutan," katanya.

    Kini kelompok lawas kembali berkuasa di PSSI. Pengelolaan hak siar liga juga kembali ke tangan mereka. Pertengahan Januari lalu, PSSI menyerahkan hak siar liga selama sepuluh tahun kepada sebuah perusahaan bernama BV Sports dengan nilai kontrak Rp 1,5 triliun. (baca juga: Bob Hippy: Ketua Umum PSSI Salah Sejak Awal)

    Namun, PSSI maupun PT Liga Indonesia enggan membuka siapa di balik BV Sports. Padahal, direktur utama perusahaan itu adalah Hari Widodo yang merupakan salah satu direktur di PT Bakrie Capital. "Tidak penting siapa orangnya," ujar Chief Executive Officer PT Liga Indonesia yang juga rekan Nirwan Bakrie, Djoko Driyono. Djoko juga membantah bahwa kembalinya kubu lama ke PSSI dilatarbelakangi motif ekonomi. "Tidak ada bisnis Pak Nirwan yang berhubungan dengan sepak bola," katanya.

    TIM INVESTIGASI TEMPO

    Berita Lain
    Jokowi Capres, Demokrat Setia dengan Konvensi
    Benarkah PDIP Sudah Susun Kabinet Bayangan?
    Jokowi Kuatkan Elektabilitas Megawati
    PDIP Sudah Dilobi Militer
    Astrolog: Oktober 2014, Mega Rayakan Kemenangan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.