El Clasico, Adu Sepak Bola, Adu Pakaian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • FIFA mengumumkan nama-nama yang menjadi kandidat pelatih terbaik dunia tahun 2013. Di antaranya adalah Carlo Ancelotti (Italia/Paris Saint-Germain/Real Madrid) dan Antonio Conte (Italia/Juventus). REUTERS

    FIFA mengumumkan nama-nama yang menjadi kandidat pelatih terbaik dunia tahun 2013. Di antaranya adalah Carlo Ancelotti (Italia/Paris Saint-Germain/Real Madrid) dan Antonio Conte (Italia/Juventus). REUTERS

    TEMPO.CO , Madrid: Pertandingan akbar antara Real Madrid dan Barcelona di Bernabeu, Madrid, dinihari nanti, Senin, 24 Maret 2014, tak hanya menyuguhkan rivalitas di lapangan. Tapi, lebih dari itu, juga adu gengsi di bidang lainnya termasuk gaya hidup. Bersama pelatih Atletico Madrid, Diego Simeono, sosok Carlo Ancelotti dari Real Madrid dan Tata Martino di Barca menambah semarak pertandingan ini.

    Saat masih bermain, Diego Simeone tak banyak bergaya: rambut selalu cepak—setengah sentimeter—dan lebih suka tidak memasukkan kausnya ke dalam celana. Tapi lihatlah sekarang: rambutnya berminyak disisir rapi, jas hitam membungkus bajunya yang juga berwarna hitam, dan dasi yang menghiasi lehernya. Dari pinggir lapangan, pelatih Atletico Madrid ini memantau anak asuhannya dengan bergaya.

    Simeone seorang pemilih dalam soal merek pakaian. “Dia menyukai fashion ala Italia, terutama merek Dolce & Gabbana,” kata Roberto Verino, penanggung jawab kostum Atletico. Selera pelatih asal Argentina itu tak berbeda jauh dengan kompetitor utamanya musim ini, pelatih Real Madrid yang memang asli Italia, Carlo Ancelotti. Tapi Ancelotti lebih menyenangi merek Versace. Pelatih Barcelona, Gerrardo “Tata” Martino, lain lagi. Dia lebih suka berbelanja pakaian di mal tanpa melihat mereknya.

    Simeone, 43 tahun, Ancelotti (54), Martino (51). Tiga pria yang tengah memacu tim masing-masing dalam persaingan panas di Liga Spanyol. Untuk sementara, klub Ancelotti, Madrid, memimpin klasemen dengan raihan 70 poin dari 28 laga. Atletico membuntuti dengan raihan tiga poin di bawah Madrid, dan Barcelona satu angka di bawah Atletico. Hanya, Atletico berpeluang menyamai poin Madrid andai Los Blancos gagal mengambil angka saat menjamu Barcelona hari ini.

    Dari sisi fashion, Simeone paling mentereng. Namun ternyata selera berpakaian sang pelatih tak selalu identik dengan kebergayaan tim yang dia latih. Mantan legenda lapangan tengah Inter Milan dan Atletico ini ternyata lebih membawa gayanya saat sebagai pemain ketimbang dipengaruhi urusan fashion. Atletico di bawah asuhan Simeone terkenal dengan permainan kerasnya, berdisiplin saat bertahan, dan mengandalkan serangan balik.

    Falsafah sepak bola Simeone lebih mirip Jose Mourinho ketimbang Marcelo Bielsa, mantan pelatih tim nasional Argentina yang pernah menangani Simeone. Bielsa disebut sebagai “orang yang selalu tergila-gila dengan taktik dan permainan indah”. Sebaliknya, Simeone menyebut strategi miliknya sebagai, “la pelota a la mierda”, yang terjemahan bebasnya berarti “persetan dengan (penguasaan) bola”. Bagi dia, tak ada gunanya berlama-lama menguasai bola tapi tak mencetak gol. “Lebih baik, hanya tiga kali menyerang dan mencetak tiga gol,” katanya.

    Meski begitu, suporter Atletico memuja Simeone. Pasalnya, sejak menangani klub itu sejak tiga tahun lalu, Simeone berhasil membawa Atletico menjadi klub yang disegani, juga di tingkat Eropa. Dia sudah mempersembahkan trofi Piala Raja 2012/2013, Liga Europa 2011/2012, dan Piala Super Eropa 2012. Lawannya di final Liga Europa adalah Athletic Bilbao, yang dilatih Bielsa.

    Lantas, di mana efek estetis fashion bagi permainan tim yang dilatih Simeone? Mungkin ada pada sisi “keberuntungan” yang dibawa warna hitam pakaian sang pelatih. Sejak masih bermain, Simeone dikenal percaya akan takhayul. Pakaian hitam-hitam yang dia kenakan sekarang mungkin sama dampaknya seperti kebiasaannya melangkah dengan kaki kanan terlebih dulu saat masuk ke stadion: sama-sama dia percayai membawa keberuntungan.

    Menurut Ancelotti, gaya Atletico bak personifikasi Simeone yang pantang menyerah. “Atletico seperti Simeone saat masih sebagai pemain, timnya solid, selalu memberikan penampilan maksimal dalam setiap laga, dan selalu menjadi satu-kesatuan,” kata pelatih Madrid ini. Ini pujian dari mulut seorang pelatih yang berpacu meraih poin dalam sepuluh laga terakhir musim ini.

    Elegan, rendah hati, penyabar, dan tak suka kontroversi. Kepribadian Ancelotti sangat berseberangan dengan pelatih Madrid sebelumnya, Jose Mourinho. Dengan sifat-sifat yang dia bawa, sangat sukar untuk membenci pelatih yang sudah bertualang di klub-klub Italia, Inggris, dan Prancis ini—kecuali mantan istrinya, Luisa, yang langsung meminta bercerai begitu tahu Ancelotti berselingkuh, empat tahun lalu.

    Saat pertama kali tiba di Spanyol selepas menjadi pelatih klub Prancis, Paris Saint-Germain, Ancelotti menunjukkan gesture yang kalem dan tak banyak omong. Sebagian pers Spanyol menuding gayanya itu menunjukkan ketidakpercayaan diri. Kritik kian menguat ketika Madrid beroleh hasil buruk pada pekan-pekan pertama. Tapi masa-masa sulit itu telah lewat. Titik baliknya terjadi menjelang Natal ketika Madrid menyalip Barcelona dengan selisih tiga poin.

    Selain membuat Madrid lebih bermain menyerang, salah satu kunci sukses Ancelotti adalah keberhasilan dia meredam riak-riak di kamar ganti. Pemain yang terpecah menjadi dua kubu kala zaman Mourinho sekarang menjadi satu-kesatuan. Kapten tim dan kiper utama, Iker Casillas, yang terpinggirkan saat Madrid dilatih Mourinho, sekarang diberi kesempatan tampil bila bermain di luar laga Liga Spanyol.

    Sementara Mourinho gemar berseteru dengan para kompetitornya, Ancelotti lebih suka mengumbar pujian. Dia mengungkapkan rasa hormatnya kepada Tata Martino. “Saya suka cara dia berbicara, tenang, mirip sekali dengan saya,” katanya. “Martino tidak suka hal-hal kontroversial.”

    Siapa pun pelatih Barcelona, pasti akan selalu dibandingkan dengan Pep Guardiola, pelatih tersukses dalam sejarah klub itu. Martino pun tak lepas dari bayang-bayang Guardiola, termasuk dalam hal cara dia berpakaian. Guardiola selalu tampil modis. Maklum, dia pernah menjadi peragawan paruh waktu saat masih muda. Martino tak terlalu perhatian akan masalah pakaian. Ia lebih kerap mendampingi para pemainnya dengan “sekadar” berkaus polo, tanpa jas.

    Tapi, siapa yang bakal menjuarai La Liga musim ini? Tentu jawabannya bukan pada masalah pakaian sang pelatih.


    BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA


    Berita Terpopuler
    Terungkap: Percakapan 54 Menit Terakhir MH370

    Sindir Jokowi Lagi, Prabowo: Kau Pembohong, Maling

    Transkrip Lengkap Percakapan 54 Menit MH370  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?