Presiden FIFA: Sanksi Suarez Terlalu Berat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Joseph Blatter. CHRISTOPHE SIMON/AFP/Getty Images

    Joseph Blatter. CHRISTOPHE SIMON/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Rio de Janeiro - Presiden FIFA, Sepp Blatter, menilai sanksi terhadap striker Uruguay, Luis Suarez, seharusnya dikurangi.

    Suarez yang akan pindah dari Liverpool ke Barcelona musim depan telah mengajukan banding kepada Komite Kedisiplinan FIFA setelah ia dijtauhi sanki sembilan laga bersama tim nasional dan larangan terlibat dalam kegiatan sepakbola selama empat bulan lantaran menggigit bek Italia, Giorgio Chiellini, dalam sebuah laga di Piala Dunia 2014. Tapi, banding tersebut ditolak.

    Kini, Suarez mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne, Swiss, dan ia mendapat dukungan dari  Blatter yang menilai pemain itu dijatuhi sanksi yang terlalu keras.

    "Mengenai kasus-kasus kedisiplinan, semua itu akan ditangani oleh komite independen,” kata Blatter jelang final Piala Dunia 2014 antara Jerman dan Argentina di Maracana, Minggu (13/7).

    "Ini tak seperti di masa lalu ketika kami yang membentuk komite-komite sendiri dan bisa memerintahkan kepada mereka apa yang harus dilakukan. Kini, kami memakai sistem demokratis dengan jurisdiksi independen di dalam FIFA.

    "Tapi, mengenai kasus Suarez, sebagai mantan pemain sepakbola, saya merasa prihatin untuknya. Saya rasa hukuman seperti itu sangat menyakitkan.

    "Sebagai presiden FIFA, saya harus menghormati keputusan yang dibuat oleh sebuah komite independen. Tapi, saya harap pemain ini akan kembali ke sepakbola karena di lapangan, ia menunjukkan kemampuan teknis dan taktiknya.

    "Ia akan kembali. Ia kini berada di salah satu klub terbesar di dunia dan ia akan menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain hebat."

    MIRROR | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.