Beckham Ingin Berperan bagi Timnas Inggris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • David Beckham. REUTERS/Philippe Wojazer

    David Beckham. REUTERS/Philippe Wojazer

    TEMPO.CO, Jakarta - Mega bintang sepak bola, David Beckham, sangat peduli terhadap tim nasional Inggris. Meski sudah memutuskan pensiun dari lapangan hijau, bekas kapten Inggris itu mengaku siap menjalankan peran apa pun untuk The Three Lions.

    Inggris harus tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia 2014. Hasil negatif itu menambah panjang catatan buruk Inggris sejak menjuarai Piala Dunia 1966. Beckham tampaknya tak ingin negaranya terus terpuruk di kancah sepak bola internasional. Ia mengaku siap menjalankan tugas apa pun demi mengangkat prestasi Inggris.

    “Saya baru pensiun satu tahun yang lalu. Tentu saja saya sudah disibukkan dengan banyak hal yang harus dilakukan. Namun, jika saya bisa membantu dengan cara apa pun untuk masa depan dan sepak bola Inggris, saya akan melakukannya,” kata Beckham kepada Daily Telegraph, Sabtu, 6 September 2014.

    Mantan pemain Manchester United, AC Milan, Real Madrid, dan Paris Saint-Germain itu pernah bekerja bersama mantan Manajer Inggris Fabio Capello di Piala Dunia 2010. Saat ini, Hodgson memiliki Gary Neville yang berperan sebagai pelatih tim.

    “Itu adalah salah satu hal yang sangat membanggakan. Saya telah pensiun dan menjadi duta besar untuk negara saya di dunia,” ujar ayah empat anak itu. “Jika ada suatu cara di masa depan, ketika saya tidak sibuk dan bisa membantu, saya akan melakukannya dengan sangat bangga.”

    SKY SPORTS | ANTONIUS WISHNU

    Baca juga:
    Tiga Sebab Ini Bikin SBY Kesal pada Tim Transisi
    SBY: Saya dan Jokowi Tak Saling Menyalahkan
    Mercy AKBP Idha Ternyata dari Bandar Narkoba
    Kurikulum 2013 Ditolak, Menteri Nuh Malah Bangga
    5.000 Bendera GAM Dipesan di Pekalongan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.