Jelang Turnamen, Sriwijaya Pincang tanpa Ferdinand Sinaga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ferdinand Sinaga. TEMPO/Subekti

    Ferdinand Sinaga. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Palembang - Klub Sriwijaya FC semakin pincang dalam turnamen pramusim Piala Indonesia Satu. Hal ini terjadi lantaran klub hanya menyisakan 17 pemain dari total sebelumnya 25 orang.

    Kabar terbaru, kapten dua tim, Ferdinand Sinaga, dilepas untuk membela PSM Makasar. Achmad Haris selaku sekretaris tim menjamin kepergian Ferdinand bukan untuk selamanya, tetapi hanya selama turnamen PIS.

    "Statusnya kami pinjamkan dan ini lumrah terjadi di sepak bola profesional," kata Achmad, Jumat, 14 Agustus 2015. Menurut Achmad, kepergian Ferdinand akan berpengaruh pada performa tim. Namun ia tetap optimistis bahwa pemain yang tersisa masih dapat mengejar masuk di lima klub terbaik dalam Piala Indonesia Satu. Apalagi pihaknya hingga kini masih memiliki pemain dengan kualitas sepadan dengan Ferdinand di setiap lini yang ada.

    Faisal Mursyid, Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri selaku operator klub, mengatakan Ferdinand sudah mendapatkan surat rekomendasi dari manajemen sebagai salah satu syarat legalitas membela PSM Makasar. Surat tersebut dikeluarkan setelah pihaknya mendapatkan permintaan langsung dari pemain terbaik musim 2014 itu. "Tidak jadi soal karena ini kan hanya turnamen pramusim," kata Faisal.

    Faisal merinci dalam turnamen yang bakal digelar dalam waktu dekat itu pihaknya harus kehilangan tiga pemain asing, yaitu Abdoulaye Maiga, Morimakan Koita, dan Goran Ljubojevic. Selain itu, Sriwijaya dipastikan tanpa pemain naturalisasi Belanda, Raphael Maitimo.

    Saat ini empat pemain lapis pertama itu sudah resmi dilepas. Tidak hanya itu, masih ada tiga pemain lokal tidak bisa memperkuat tim lantaran harus bergabung dalam skuad tim pra-PON Sumsel.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.