Kisah Nekat Suporter Sriwijaya FC Modal Rp 150 Ribu ke GBK

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Sriwijaya FC, Singamania, membawa replika trofi LSI. TEMPO/Parliza Hendrawan

    Suporter Sriwijaya FC, Singamania, membawa replika trofi LSI. TEMPO/Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wajah Ahmad Salam tampak kuyu. Debu jalanan terlihat menempel pada wajah anak berusia 16 tahun ini. Seragam Sriwijaya FC berwarna kuning dengan motif batik khas Sumatera Selatan yang dikenakannya pun lusuh. Namun, dia memiliki semangat untuk nonton laga Sriwijaya FC kontra Persib Bandung dalam Final Piala Presiden di Stadion Gelora Bung Karno, Ahad 18 Oktober 2015.

    Remaja yang tinggal di Perumahan Jaya Bersama, RT 14, RW 02, Banyuasin, Sumatera Selatan ini rela menempuh jarak ratusan kilometer demi tiba di Ibu Kota. Dia bersama 15 Sriwijaya Mania, julukan bagi suporter sepak bola Sriwijaya FC, yang berasal dari Banyuasin, berangkat dari Banyuasin dua hari lalu.

    "Untuk sampai di Stadion Utama Gelora Bung Karno kami harus berganti-ganti truk hingga lebih dari 3 kali. Kami pun baru tiba siang ini," ujar Salam kepada Tempo, di Stadion Gelora Bung Karno, Jumat, 16 Oktober 2015.

    Salam menjelaskan, usahanya demi menyaksikan jagoannya berlaga di final Piala Presiden melawan Persib Bandung pada Ahad mendatang, 18 Oktober 2015, tidaklah mudah. Dia sempat dilarang oleh ibunya untuk berangkat ke Ibu Kota. Musababnya, ibunya tak tega melihat ia berangkat ke Jakarta hanya demi pertandingan sepak bola. "Jakarta itu keras," pesan ibu Salam.

    Kendati pada akhirnya mendapatkan restu, ibu Salam tak memberikan ia uang. Akhirnya demi menyaksikan penampilan Talaohu Abdul Musafri dan tim, dia rela mengeluarkan uang sebesar Rp 150 ribu. Agar bisa sampai di Jakarta, uang tersebut, lantas disatukan dengan uang milik 15 temannya. Total uang yang terkumpul mencapai Rp 450 ribu.

    Dengan dana yang sangat terbatas itu, Salam dan 15 Sriwijaya Mania lainnya terpaksa berganti-ganti truk. Saat sopir truk istirahat, kata dia, ia dan teman-temannya pun terpaksa tidur di bak truk.

    "Panasnya terik matahari dan dinginnya angin malam, kami rasakan semua," ungkap Salam.

    Sementara itu, untuk makan selama perjalanan, Salam dan 15 temannya, membeli nasi bungkus. Menunya pun sederhana, hanya nasi, sayur, dan tempe. Satu bungkus nasi pun dimakan oleh lima orang.

    Walaupun sudah berhemat, uang Salam dan 15 temannya saat ini hanya tersisa Rp 90 ribu. Kondisi ini semakin diperparah dengan tiket pertandingan yang belum mereka dapatkan. Anak yang hanya lulus SMP ini pun hanya berharap pada manajemen Sriwijaya FC untuk memberikannya tiket.

    "Pusing pala awak pikirkan tiket," keluh Salam dengan Bahasa Palembang sembari menggaruk-garuk kepalanya.

    Untuk kembali ke Palembang, Salam dan teman-temannya berharap dapat menumpang bus yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Jika bus tak muat, dia siap kembali ke Banyuasin dengan menumpang truk lagi.

    Perjalanan serupa dilakukan oleh Sriwijaya Mania lainnya, Hendra. Dia berangkat dari Banyuasin Rabu siang lalu. "Dini hari, Jumat, saya baru tiba di Stadion Gelora Bung Karno dengan dikawal polisi," tutur pria berusia 18 tahun ini.

    Berbeda dengan Salam, nasib Hendra lebih mengenaskan. Sejak Rabu lalu hingga hari ini, dia baru makan tiga kali. Bahkan nasi bungkus yang dia beli harus dimakan beramai-ramai. "Sebelas nasi bungkus dimakan oleh 43 orang," tutur pria berjaket hitam ini.

    GANGSAR PARIKESIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.