Rebutan Pemain, Manajemen Borneo FC dan PSM Bersitegang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemaian Pusamania Borneo FC Jajang Mulyana merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persipasi Bandung Raya (PBR) dalam pertandingan Babak Penyisihan Grup D Piala Presiden 2015 di Stadion Andi Matalatta, Makassar, 31 Agustus 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    Pemaian Pusamania Borneo FC Jajang Mulyana merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persipasi Bandung Raya (PBR) dalam pertandingan Babak Penyisihan Grup D Piala Presiden 2015 di Stadion Andi Matalatta, Makassar, 31 Agustus 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Samarinda - Presiden Pusamania Borneo FC (PBFC) Nabil Husein Said Amin bereaksi atas tudingan manajer teknik PSM Makassar, Sumirlan. Dia mengingatkan agar Sumirlan tak mencari sensasi dengan menyebut tim Pesut Etam mengambil pemainnya kepada media.

    "Jangan cari sensasi dengan cara seperti itu, kalau ada masalah bicara saja ke kami jangan ke media, saya respek dengan PSM," kata Nabil Husein, Minggu, 8 November 2015.

    Menurut Nabil, Agung Prasetyo bergabung dengan timnya setelah PSM Makassar memberi pengakuan bahwa Agung telah dikeluarkan dari klubnya itu.

    Sejak 2 November 2015, Agung telah bergabung dalam pemusatan latihan PBFC di Lapangan Hasanuddin, Makassar. Dia juga telah dua kali tampil bersama PBFC pada laga uji coba yang digelar di Makassar. Uji coba terakhir, PBFC menang telak 6-1 atas tim lokal PS Angkatan Darat di Makassar, Sabtu, 7 November 2015.

    Bek jebolan Sea Games Singapura itu menjadi pemain utama pilihan pelatih PBCF, Iwan Setiawan. "Agung sudah padu dengan pemain lain, barisan pertahanan PBFC juga sudah baik dengan hadirnya Agung," kata Iwan Setiawan.

    Kehadiran Agung di PBFC sempat menimbulkan polemik. Manajemen PSM Makassar menginginkan Agung kembali. Bahkan, manajemen Juku Eja itu melakukan pemanggilan paksa terhadap Agung dengan ancaman tidak akan mengeluarkan surat agar tidak bisa tampil membela PBFC di turnamen Piala Jenderal Sudirman.

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.