Menang Atas Dinamo, Konsistensi Arsenal Masih Diuji

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang Arsenal, Mesut Ozil melakukan selebrasi setelah mencetak gol pembuka bagi timnya ke gawang Dinamo Zagreb pada pertandingan Grup F Liga Champions di Stadion Emirates, London, 25 November 2015. Reuters / Stefan Wermuth

    Gelandang Arsenal, Mesut Ozil melakukan selebrasi setelah mencetak gol pembuka bagi timnya ke gawang Dinamo Zagreb pada pertandingan Grup F Liga Champions di Stadion Emirates, London, 25 November 2015. Reuters / Stefan Wermuth

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika Arsenal dihancurkan tuan rumah Bayern Munchen dengan skor telak 1-5 dalam matchday keempat pada awal bulan ini, maka yang berhamburan di media ialah klub berjuluk The Gunners dari London itu sudah habis di Liga Champions Eropa musim ini.

    Pandangan itu wajar saja, mengingat ketika seluruh matchday keempat selesai, Bayern Munchen memuncaki klasemen F dengan nilai 9, sama dengan perolehan Olympiakos Piraeus tapi Munchen unggul selisih gol.

    Sementara, posisi Arsenal pada saat itu di peringkat ketiga dengan nilai 3, sama dengan Dinamo Zagreb, namun skuat besutan Arsene Wenger unggul selisih gol.

    Dengan saat itu tinggal tersisa dua pertandingan bagi setiap tim, artinya, jika Bayern Munchen dan Olympiakos seri pada matchday kelima atau Arsenal tersandung—tak perlu kalah, tetapi seri saja—pada salah satu dari dua laga sisa, secara hitungan matematis Arsenal dipastikan tersingkir.

    Tapi, yang kemudian terjadi, Arsenal ibarat bangkit dari kubur. Pada matchday kelima Bayern Munchen menghantam Olympiakos 4-0 dan Arsenal menguliti Dinamo 3-0.

    Dengan hasil itu, tim Meriam London kini mengoleksi nilai 6 dan memelihara harapan untuk lolos ke babak 16 besar, setidaknya sebagai runner up grup.

    Namun, kebangkitan Arsenal itu masih harus diteruskan dengan perjuangan yang masuk kategori sangat berat di matchday keenam. Begitu sulitnya laga di matchday keenam, sehingga kalau bisa diibaratkan lagi, kebangkitan Arsenal setelah menang di matchday ketiga itu bukan langsung meninggalkan pekuburan, namun ‘masih duduk di tepi makam’.

    Masalah besar bagi Arsenal ialah pada matchday keenam harus bertandang ke markas Olympiakos. Penampilan klub-klub Yunani ini mirip dengan Turki, mereka mampu tampil luar biasa, katakanlah 200 persen, ketika tampil di kandang.

    Oleh sebab itu, Arsenal bakal melalui pertarungan hebat pada 10 Desember. Alexis Sanchez dan kawan-kawan perlu bukan sekadar menang untuk ke 16 besar sehingga mendapat nilai sama-sama 9, namun harus dengan selisih dua gol, karena head to head keduanya milik Olympiakos yang mempecundangi Arsenal di Stadion Emirates 3-2 pada pertemuan pertama.

    Atau boleh juga Arsenal menang dengan selisih satu gol, namun Arsenal harus mencetak minimal tiga gol (kemenangan 3-2, 4-3, 5-4, dan seterusnya).

    Jika itu terealisasi, maka kisah Arsenal ‘bangkit dari kubur’ akan terus jadi kenangan yang nikmat untuk diulang-ulang sebagai pembangkit nyali dan semangat skuat The Gunners pada masa mendatang. Atau sebaliknya, dari 'duduk di tepi makam' masuk lagi ke liang kubur?

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?