Menpora: FIFA Ubah Kesepakatan, Situasi Makin Rumit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi mengatakan nasib persepakbolaan Tanah Air terutama terkait dengan bergulirnya kembali kompetisi liga Indonesia tergantung dari keputusan federasi sepak bola dunia (FIFA) yang bakal mulai kembali membahas akar permasalahan kisruh sepak bola di Indonesia pada 2 Desember 2015.

    "Tergantung nanti FIFA mau ngapain kepada Indonesia," katanya saat ditemui awak media di kampus Universitas Padjadjaran, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Kamis, 26 November 2015.

    Menurut Menteri Imam, kondisi sepak bola nasional yang tengah dikenai sanksi FIFA kini menjadi semakin rumit. Pasalnya, kata dia, berdasarkan pertemuan beberapa waktu lalu antara FIFA dan Presiden Joko Widodo, tengah mencapai kesepakatan untuk membuat tim guna menyelesaikan kisruh sepak bola di Indonesia.

    "Saya mengkritik kepada FIFA, karena apa yang sudah disepakati oleh Presiden harus dijalankan ternyata setelah keluar dari sana FIFA berubah lagi," katanya.

    Namun, ucap dia, FIFA malah merubah isi kesepakatan, dari awalnya hanya membuat tim yang berfungsi menangani masalah kisruh sepak bola nasional malah menjadi pembentukan tim ad hoc yang seolah-olah menjadi kian rumit. "Berubahnya setelah disepakati FIFA dan pemerintah bikin tim kecil itu kesepakatannya, tapi setelah keluar dari sana malah berubah menjadi tim ad hoc dan jadi ada banyak pihak," ujarnya.

    "Intinya kita tidak ingin itu menjadi komitmen kosong, kita ingin menagih itu makanya kita menunggu tanggal 2 Desember nanti mereka akan sidang di FIFA, kita akan menunggu seperti apa proyeksi mereka," ucapnya.

    Imam mengatakan meski sepak bola Indonesia berstatus kena sanksi FIFA, tapi turnamen masih tetap berjalan guna mengisi kekosongan liga. Kadang, kata dia, Indonesia itu dianggap sebelah mata tidak bakal mampu menyelenggarakan turnamen tanpa bantuan FIFA, tapi buktinya Indonesia mampu menggelar turnamen yang cukup membius para penikmat sepak bola. Hal itu terbukti dari suksesnya penyelenggaraan turnamen Piala Presiden pada Oktober 2015.

    "Nyatanya semua daerah dan elemen bisa melakukan itu dengan segmen dan predikat yang berbeda tapi untuk mengisi kekosongan semua perlu siapa pun melakukan itu dan harus ada terus turnamen semua sponsor pun berlomba-lomba jadi operator di level masing-masing," katanya.

    AMINUDIN A.S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.