Barcelona Vs Guangzhou, Bisakah Scolari Membendung Messi cs?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang FC Barcelona, Neymar melakukan selebrasi bersama dengan rekan setimnya Lionel Messi dan Luis Suarez pada pertandingan Liga Spanyol di Camp Nou, Barcelona, 28 November 2015. REUTERS/Albert Gea

    Penyerang FC Barcelona, Neymar melakukan selebrasi bersama dengan rekan setimnya Lionel Messi dan Luis Suarez pada pertandingan Liga Spanyol di Camp Nou, Barcelona, 28 November 2015. REUTERS/Albert Gea

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepercayaan diri Luiz Felipe Scolari langsung terbang tinggi. Sebabnya adalah permainan timnya, Guangzhou Evergrande, saat bertanding melawan Club America, juara Concacaf, dalam pertandingan perempat final Piala Dunia Antar-Klub, Ahad lalu, di Yokohama, Jepang. Dalam pertandingan itu, mereka menang 2-1.

    Bukan semata hasil akhir yang membuat pelatih asal Brasil itu senang, melainkan semangat juang para pemainnya. Tertinggal lebih dulu gara-gara gol dari Oribe Peralta pada menit ke-55 tak lantas membuat mereka kedodoran. Malah sebaliknya, mereka membalas gol lewat aksi Zheng Long pada menit ke-71. Lalu, Paulinho, pemain yang pernah bermain di Tottenham Hotspur, membuat gol penting di masa injury time.

    Scolari tersenyum senang. “Sepak bola adalah permainan selama 90 menit. Kami sangat ingin maju ke semifinal. Itu sebabnya saya membuat perjudian dalam pergantian pemain. Malam ini, semua itu berjalan dengan baik,” kata Scolari. “Kami harus melanjutkan mimpi di turnamen ini saat bermain dengan Barcelona. Kemenangan bukan hal yang mustahil.”

    Sore nanti, mimpi itulah yang ingin diwujudkan Scolari. Bisa jadi memang hanya mimpi. Maklum, Barcelona bukanlah Club America asal Meksiko—yang mereka kalahkan di babak perempat final.

    Lagi pula, Barcelona telah menjadi favorit dalam turnamen kali ini. Siapa pun lebih menyukai final tersaji antara Barcelona dan klub asal Argentina, River Plate.

    Javier Mascherano, pemain Barcelona, pun sudah tak sabar menghadapi bekas klubnya itu. “River adalah klub masa remajaku. Saya bergabung saat berusia 15 tahun, dan di sana saya tumbuh tidak hanya menjadi pemain sepak bola. Saya senang mereka memenangi Libertadores. Tapi saya ingin sekali memenangi turnamen ini bersama Barcelona,” katanya.

    Barcelona sendiri, meski turnamen ini tergolong kecil, sangat berambisi memenangi piala ini, yang akan menjadikannya sebagai gelar kelima dalam tahun ini. Pencapaian yang sempurna pernah mereka raih pada 2009 bersama Pep Guardiola, yang mengumpulkan enam piala—mereka punya piala lebih, yakni Piala Super Spanyol.

    Tahun ini mereka telah memenangi La Liga, Copa del Rey, Liga Champions, dan Piala Super Eropa. “Kini kami ada lagi di kejuaraan ini (Piala Dunia Antarklub). Semua tergantung kami untuk membuatnya mungkin dan menutup tahun dengan pengalaman yang tak terlupakan,” kata pemain Barcelona, Lionel Messi.

    Segalanya akan lebih mudah bagi Barcelona, memang. Tapi gelandang klub itu, Sergio Busquets, mengingatkan lawan mereka di semifinal bisa menjadi ancaman untuk mewujudkan ambisi tersebut.

    “Mereka merupakan tim yang berbahaya. Mereka punya Scolari dan beberapa pemain Brasil. Dan yang penting, mereka telah membuat sebuah kejutan,” katanya saat tiba di Yokohama, Senin lalu.

    Nama Scolari memang langsung tenggelam setelah timnya, Brasil, dibantai Jerman di babak semifinal dengan skor 7-1. Namun banyak pengamat menyebutkan pelatih ini selalu memiliki nasib yang bagus dalam turnamen di babak hidup-mati, atau yang dikenal di Brasil dengan istilah “mata-mata”. Apalagi tim yang dibawanya kali ini berstatus sebagai tim underdog.

    Satu contoh adalah ketika mereka menjuarai Piala Konfederasi, setahun sebelum perhelatan Piala Dunia. Di final, mereka mengalahkan Spanyol dengan skor telak 3-0.

    Kemenangan itu diperoleh dalam sebuah permainan sepak bola yang keras. Tercatat, dalam pertandingan itu, Brasil melakukan 26 pelanggaran. Beruntung, kala itu Brasil tak mendapatkan satu kartu kuning pun. Apa pun dilakukan para pemainnya untuk mematikan lini tengah lawan. Taktik itu berhasil.

    Kali ini timnya jelas berbeda. Namun Scolari tetap yakin tim asuhannya bisa berbuat banyak. Guangzhou tidak pernah kalah dalam 28 pertandingan, termasuk 24 di antaranya sejak Scolari datang Juni lalu. Mereka juga merupakan pemenang Liga Cina dan juara Liga Champions Asia.

    “Kami memang hanya tim kecil. Tapi saya yakin kami bisa berbuat sesuatu. Saya punya mimpi dan bisa membuat para pemain percaya bahwa mereka bisa melakukannya untuk mengalahkan Barcelona,” kata Scolari.

    Di International Stadium Yokohama, semuanya terjawab. Scolari juga bermimpi kenangan indah ketika di stadion yang sama, 13 tahun lalu, terulang. Saat itu dia mempersembahkan gelar juara dunia untuk Brasil yang mengalahkan Jerman di final, dengan skor 2-0.

    GOAL | BBC | XINHUA | STANDARD.CO.UK | IRFAN B.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?