Dele Alli, Sang Penghibur di Timnas Inggris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain timnas Inggris, Dele Alli terjatuh saat berebut bola dengan pemain timnas Malta, Andre Schembri dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 di Wembley Stadium, Inggris, 8 Oktober 2016. REUTERS

    Pemain timnas Inggris, Dele Alli terjatuh saat berebut bola dengan pemain timnas Malta, Andre Schembri dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 di Wembley Stadium, Inggris, 8 Oktober 2016. REUTERS

    TEMPO.COJakarta - Beruntunglah Inggris punya anak muda macam Dele Alli. Setiap berada di lapangan, pemain muda yang bermain di Tottenham Hotspur ini seperti tidak pernah kenal lelah, sonder rasa takut, dan punya insting luar biasa untuk menjebol gawang musuh.

    Aksinya yang luar biasa sudah sering diperagakan tiap pekan dalam Liga Primer bersama Spurs. Namun yang dipertontonkan saat Inggris berhadapan dengan Malta, Jumat lalu, tak kalah sedap. Bahkan menuai banyak pujian. 

    “Nomor 10 telah sempurna dimainkan Alli. Saya dan Rooney hanya perlu mengoper bola dan memberikan perlindungan saat tim kehilangan bola,” kata Jordan Henderson, wakil kapten sekaligus gelandang Three Lions.  

    Penampilannya di Wembley pun kian sempurna dengan gol yang dia buat pada menit ke-38. Gol ini menggandakan kemenangan Inggris setelah sebelumnya Daniel Sturridge mencetak gol pertamanya. Malta pun pulang membawa kekalahan 0-2.

    Tak pelak, karena kiprahnya itu, julukan pun diberikan kepada Alli. Katanya yang dipertontonkan Alli sangat menghibur tidak saja untuk para penonton, tapi juga untuk manajernya, Gareth Southgate. “Apakah saya bermain menghibur? Saya harap begitu,” ujarnya.

    Namun dalam benaknya sama sekali tak ada keinginan untuk bermain luar biasa. Tak ada niat ingin bermain cantik. Alli hanya ingin bermain dengan senang dan mengekspresikan diri persis seperti yang selalu diminta pelatih sebelum pertandingan. “Jadi ini cocok dengan saya.”

    Yang jelas, Alli mengaku senang atas posisinya sebagai gelandang serang—yang memungkinkannya bisa naik dan membantu serangan. “Saya memang suka masuk ke kotak penalti untuk menciptakan gol atau assist. Peluang sudah tersedia, tapi kami harus lebih efektif,” ucapnya.

    Namun, di luar semua itu, menurut dia, permainannya bisa berkembang seperti itu tak lain karena tak ada rasa takut yang menghalanginya. “Tidak ada satu pun yang membuat saya takut,” tuturnya. Bisa dipahami tentu saja, dia masih berumur 20 tahun. 

    Resep kesuksesan lainnya, dia mengaku tak pernah merasa terbebani dalam pertandingan besar. “Saya hanya ingin bermain dan menikmati setiap menit yang ada,” katanya.

    Segala resep kehebatannya itu akan kembali dia olah dalam pertandingan Inggris melawan Slovenia di Ljubljana. Sebab, dia sudah teramat menghibur. Gareth Southgate pun tak ragu akan menurunkan dia lagi dinihari nanti.  

    BBC | SKYSPORT | DAILYSTAR | IRFAN B.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.