Masa Lalu Memilukan Gabriel Jesus, Penyerang Baru Manchester City

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain timnas Argentina, Ramiro Funes Mori, berebut bola dengna pemain timnas Brasil, Gabriel Jesus dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 di Belo Horizonte, Brasil, 10 November 2016. REUTERS

    Pemain timnas Argentina, Ramiro Funes Mori, berebut bola dengna pemain timnas Brasil, Gabriel Jesus dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 di Belo Horizonte, Brasil, 10 November 2016. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Di balik kesuksesan terkadang tersimpan kisah yang memilukan. Begitulah ungkapan yang pas buat Gabriel Jesus, penyerang anyar Manchester City yang didatangkan dari Palmeiras, Brasil.

    Ibunda Jesus, Vera Lucia Diniz de Jesus, mengaku membesarkan Jesus dan empat saudaranya setelah ayahnya kabur bersama perempuan lain. Kejadian itu tepat ketika Jesus masih dalam kandungannya.

    Kegigihan Vera Lucia dalam membesarkan lima anaknya itulah yang membuat mereka sangat menghormatinya, tak terkecuali Jesus. Bahkan, setelah menjadi bintang sepak bola, pemain 19 tahun itu masih sangat mendengarkan nasihat sang ibu.

    "Anak saya selalu menundukkan kepalanya ketika saya berbicara," ujarnya, seperti dilansir laman Telegraph.

    Tak hanya pintar dalam mengolah bola, Jesus juga disebut sebagai anak yang pintar di sekolah. Dia tak pernah meninggalkan pelajarannya meskipun asyik bermain bola.

    "Saya selalu mengatakan kepada anak saya, menjadi orang kulit hitam dan miskin, maka kamu harus pintar," ucap Vera, yang mendampingi Jesus ke Inggris.

    Vera juga menanamkan jiwa religius pada anaknya itu. Nomor punggung 33 yang akan dikenakan Jesus di Manchester City merupakan manifestasi religiusitas Jesus. Kalangan kristiani percaya Yesus disalib ketika berusia 33 tahun.

    Karier sepak bola Jesus dimulai di klub Pequeninos do Meio Ambiente, sebuah sekolah sepak bola kecil di kota kelahirannya, Sao Paolo. Awalnya, Jesus justru bermain sebagai pemain belakang.

    "Dia bermain di belakang karena dia tangguh meskipun kecil. Tapi, setelah itu, kami melihat bakat yang dia miliki. Lalu kami menaruhnya di lini depan," ujar pelatih pertama Jesus, Nilson Coelho Santos.

    Pada usia 14 tahun, Jesus pindah ke klub yang lebih besar, Anhanguera. Di klub itu, dia berhasil mencetak 29 gol dalam kompetisi di tingkat lokal.

    Nasibnya berubah setelah Anhaguera menggelar pertandingan persahabatan dengan Palmeiras Junior. Tampil dominan pada laga itu, Jesus mendapat undangan melakukan uji coba di salah satu klub elite Liga Brasil itu.

    Lolos uji coba, karier Jesus terus menanjak. Dia tercatat mencetak 37 gol dalam 22 laga bersama Palmeiras U-17 pada tahun pertamanya. Bakat Jesus itu menarik perhatian pelatih tim senior Palmeiras, Oswaldo de Oliveira. Pada 2015, Oliveira pun memberi Jesus kesempatan masuk tim senior.

    "Semua orang di klub membicarakannya. Dia sangat berani. Dia tak pernah menghindar dari jegalan lawan. Dia juga sangat cepat dan bisa mencetak banyak gol," ujar Oliveira.

    Kini, Manchester City tentu saja mengharapkan daya magis pemain yang ikut mempersembahkan medali emas untuk tim nasional Brasil di Olimpiade Rio de Janiero itu. Jesus pun bertekad membuktikan dia bisa menjadi salah satu pemain top dunia.

    "Saya akan menjadi salah satu favelados (anak kampung) yang menaklukkan dunia. Saya akan membuat ibu saya sangat bangga kepada saya," tuturnya.

    TELEGRAPH | EXPRESS | FEBRIYAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.