Persiba Balikpapan Rekrut Pemain Naturalisasi dari Jerman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Timo Scheunemann. TEMPO/Hariandi Afid

    Timo Scheunemann. TEMPO/Hariandi Afid

    TEMPO.CO, Balikpapan - Persiba Balikpapan merekrut pemain naturalisasi blasteran Jerman-Ambon, Kevin Scheunemann, untuk mengarungi kompetisi Liga Super Indonesia 2017. Pemain ini diyakini akan mempertajam ujung tombak tim Beruang Madu, yang lebih dulu mengontrak Marlon da Silva.

    “Kevin sudah resmi bermain bersama Persiba musim ini,” ucap pelatih Persiba, Timo Scheunemann, Rabu, 18 Januari 2017.

    Timo mengatakan pemain naturalisasi ini sesuai dengan kebutuhan Persiba akan striker yang haus gol di gawang lawan. Pemain 25 tahun ini juga sudah melanglang-buana di berbagai kompetisi di Liga Amerika Serikat dan Austria.

    Musim lalu, Kevin sempat diincar Semen Padang guna memperkuat skuadnya. Proses negosiasi terganjal oleh administrasi naturalisasi kewarganegaraan yang belum rampung.

    “Sebenarnya dulu mau diambil Nil Maizar, tapi terkendala karena belum ada surat dari kehakiman bahwa dia naturalisasi. Tapi sekarang sudah ada surat dari kehakiman,” ujarnya.

    Selain itu, Timo menuturkan akan adanya pemain Asia yang segera merumput di Balikpapan. Posisinya menggantikan gelandang Matsunaga Shohei yang memilih hengkang ke Persib Bandung.

    “Pemain Asia ini bagus, tapi saya belum bisa sebutkan namanya. Nanti juga tahu kalau sudah datang, karena dia pemain yang sudah dikenal,” katanya.

    Demikian pula bekas bek Mitra Kukar, Arthur Cunha Da Rocha, yang akan memperkuat skuad Persiba. Prosesnya masih dalam negosiasi nilai kontrak pemain.

    Persiba melakukan latihan perdana sekaligus seleksi pemain di Stadion Parikesit, Balikpapan, pada Rabu. Belasan pemain mengikuti seleksi itu, di antaranya pemain yang sempat bermain di Torabika Soccer Championship.

    S.G. WIBISONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.