PSSI Batasi Usia Pemain Divisi Utama, Persik Kesulitan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Persik Kediri berlatih di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jawa Timur, 14 Januari 2015. ANTARA/Rudi Mulya

    Pemain Persik Kediri berlatih di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jawa Timur, 14 Januari 2015. ANTARA/Rudi Mulya

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen Persik Kediri mengeluhkan ketentuan PSSI tentang batasan usia pemain untuk tim yang berlaga di Divisi Utama. Hal ini memaksa pengelola tim berebut pemain muda yang jumlahnya sangat terbatas.

    Manajer Persik Kediri Anang Kurniawan mengatakan ketentuan baru PSSI tentang batasan usia dengan mengutamakan pemain muda menjadi kendala serius bagi seluruh tim di Indonesia. Meski di satu sisi hal ini menjadi langkah maju dalam regenerasi pemain, namun fakta di lapangan ketersediaan pemain muda dengan kemampuan bagus sangat terbatas. “Ini kendala semua tim di Indonesia,” kata Anang kepada Tempo, Minggu 22 Januari 2017.

    Anang menjelaskan, ketentuan baru tersebut memaksa timnya memenuhi skuad dengan pemain muda dan hanya diizinkan merekrut lima pemain saja dengan usia di atas 25 tahun. Selain itu, terpuruknya mantan jawara Liga Super Indonesia ke divisi utama ini sekaligus memangkas harapan merekrut pemain asing sesuai ketentuan PSSI.

    Tak hanya itu, tim yang perlahan mulai berbenah dari krisis keuangan hebat ini juga baru saja membentuk tim pelatih. Alhasil tim yang baru diumumkan Sabtu kemarin di sekretariat Persik Jalan Diponegoro Kediri ini pontang-panting memburu pemain muda. Tim yang dikepalai Dwi Prio Utomo ini terdiri atas Wahyudi, Bejo Subiantoro, dan pelatih fisik Edo Rahmad Adianto.

    Menurut Anang, pemilihan Dwi Prio Utomo sebagai pelatih kepala Persik ini didasarkan pada banyak pertimbangan. Selain terbilang muda, dia juga memiliki kemampuan komunikasi bagus dengan manajemen, supporter, dan pemain. Masuknya Dwi Prio Utomo ini menggugurkan tiga kandidat lain yang sempat melamar sebagai pelatih kepala Persik. Mereka terdiri atas satu pelatih asing, satu pelatih senior yang pernah mengarsiteki Persik, serta satu pelatih muda.

    “Kita putuskan memilih saudara Dwi Prio,” kata Anang yang enggan menyebut identitas tiga kandidat lainnya.

    Pelatih kelahiran Demak tahun 1978 ini mengantongi Lisensi A dan B dari AFC. Sebelum menjadi pelatih, dia tercatat pernah bermain di sejumlah klub seperti Semen Padang, Persik Kediri, Persibat Batang, Perseman Manok Wari, dan Persip Pekalongan. Karirnya bahkan telah dimulai saat masih pelajar dengan mendukung skuad PSSI Pelajar Runner Up tahun 1994, PSSI Pelajar Juara Asia tahun 1995, dan sederet penghargaan lain.

    Berbekal lisensi pelatih tersebut, Dwi Prio Utomo mulai menapaki kursi pelatih dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Tama Kediri, SSB Macan Putih Kediri, Piala Suratin Kediri, asisten pelatih Persik Kediri, asisten pelatih Tim Nasional U-19, Akademi Primavera Salatiga, dan Football Class SMPN 2 Kediri di tahun 2016.

    Dikonfirmasi jabatan barunya sebagai pelatih kepala Persik, Dwi Prio mengakui sulitnya mendapat pemain muda saat ini. Ketentuan PSSI soal batasan usia memaksanya memutar otak untuk mencari pemain-pemain muda yang berbakat meski minim pengalaman. “Saya akan memprioritaskan bakat dari Kediri dulu sebelum melirik luar kota,” katanya.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.