Finalisasi Calon Pelatih Timnas Molor, Ini Masalahnya  

Selasa, 10 Januari 2017 | 14:08 WIB
Finalisasi Calon Pelatih Timnas Molor, Ini Masalahnya   
Luis Fernandez. africatopsports.com

TEMPO.COJakarta - Informasi tak enak beredar soal calon pelatih timnas Indonesia, Luis Fernandez. Pelatih 57 tahun itu dikabarkan tidak bisa menetap terlalu lama di Indonesia dengan alasan tertentu.

Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Ade Wellington membenarkan kabar ini. Menurut dia, hal itu akan menjadi salah satu bahan pertimbangan terhadap Fernandez. Meski begitu, Ade mengatakan Fernandez punya segudang nilai positif untuk tim nasional.

Fernandez dianggap kenyang pengalaman sebagai pemain dan pelatih. Khusus sebagai pelatih, ia pernah menangani dua tim nasional, yakni Israel dan Guinea.

Baca: Pelatih Timnas Belum Diputuskan, Apa Kendala PSSI?

"Kami tak sejauh itu untuk tahu alasan (Fernandez tak bisa lama tinggal di Indonesia). Tapi setiap pelatih punya mekanisme dan gaya sendiri saat melakukan pemusatan latihan. Ada pelatih yang mau latihan penuh, ada yang minta jeda istirahat. Kami hormati itu," kata Ade di Bandung, Senin, 9 Januari 2017.

Pengamat sepak bola Edy Elison meminta PSSI berpikir dua kali jika merekrut Fernandez. Sebab, Edy yakin keengganan Fernandez tinggal lama di Tanah Air bakal mempengaruhi tim nasional.

Menurut dia, pelatih tim nasional harus bisa menjalin hubungan emosional dengan pemain. Dengan demikian, dibutuhkan banyak waktu untuk tinggal dan menjalin keakraban dengan para pemain di Indonesia.

"Selain itu, kegagalan Fernandez di timnas Israel dan Guinea harus menjadi pertimbangan lain PSSI," ujar Edy ketika dihubungi Tempo.

Selain Fernandez, PSSI sedang mempertimbangkan satu nama, yaitu Luis Milla. Dia adalah pemain Barcelona ketika tim Katalunya itu memenangi Piala Winners Eropa 1989.

INDRA WIJAYA

Baca: 
Tak Ada Pemain Liga Inggris di Tim Terbaik FIFA
Messi Dikritik karena Tak Hadiri Penghargaan Pemain FIFA
Rebut Gelar Pemain Terbaik, Ronaldo Sulit Mempertahankannya




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan