Mengenal Hans-Dieter Flick, Pelatih Terhebat Bayern Munchen

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Bayern Munchen, Robert Lewandowski berbincang dengan pelatihnya, Hans-Dieter Flick di sela sesi latihan di Saebener Strasse, Jerman, 5 Mei 2020. REUTERS/Andreas Gebert

    Pemain Bayern Munchen, Robert Lewandowski berbincang dengan pelatihnya, Hans-Dieter Flick di sela sesi latihan di Saebener Strasse, Jerman, 5 Mei 2020. REUTERS/Andreas Gebert

    TEMPO.CO, JakartaBayern Munchen memecat Pelatih Niko Kovac dan menunjuk asistennya Hans-Dieter Flick sebagai pelatih sementara pada November tahun lalu. Penunjukkan Flick sempat diragukan banyak pihak namun kini dia berhasil meraih gelar pelatih terhebat klub raksasa asal Jerman itu. 

    Pemecatan Kovac merupakan buntut dari performa Munchen yang kurang meyakinkan di Bundesliga awal musim ini. Die Roten yang merupakan juara bertahan dalam tujuh musim beruntun hanya memenangkan lima dari sepuluh laga awal musim ini.

    Puncaknya adalah ketika mereka dibungkam Eintracht Frankfrut 5-1. Petinggi Munchen langsung menggelar rapat yang kemudian berujung pemecatan Kovac pada sehari setelah kekalahan itu.

    Kekhawatiran sempat muncul di kalangan suporter Munchen ketika pihak klub mengumumkan mereka belum mendapatkan pengganti Kovac dan memutuskan menunjuk Flick sebagai pelatih sementara. Pasalnya, pria asal Jerman itu minim pengalaman menangani klub besar.

    Dia hanya pernah menangani TSG Hoffenheim sebagai manajer pada 2000 hingga 2005. Itupun ketika Hoffenheim masih bermain di divisi keempat dan ketiga Liga Jerman.

    Nama Flick sebenarnya tak asing bagi suporter Bayern Munchen. Dia pernah membela tim itu pada 1985 hingga 1990. Meskipun tak menjadi pemain utama Munchen, dia ikut mempersembahkan empat gelar juara Bundesliga dan satu juara Piala Jerman.

    Karir Flick sebagai pesepakbola tak terlalu menonjol. Dia tak pernah sekalipun bermain untuk Timnas Jerman dan hanya pernah membela Tim Panser U-18 sebanyak dua kali.

    Dia pun gantung sepatu dengan cepat. Pria kelahiran 24 Februari 1965 itu pensiun pada tahun 1993 di FC Koln, pada usia 28 tahun, karena cedera parah.

    Pensiun sebagai pemain, Flick memulai karir kepelatihannya dari bawah. Dia menangani klub Viktoria Bammental yang bermain di divisi kelima Liga Jerman pada 1996. Awal karirnya pun berjalan dengan tidak mulus karena Viktoria langsung terdegradasi ke divisi keenam musim itu. Beruntung bagi Flick dia dipertahankan klub tersebut hingga tahun 2000.

    Dilepas Viktoria, Flick lantas menangani 1899 Hoffenheim yang masih bermain di divisi keempat Liga Jerman pada tahun 2000. Kali ini Flick lebih beruntung karena berhasil membawa timnya promosi ke divisi ketiga, namun dia pun akhirnya diberhentikan setelah tak mampu membawa Hoffenheim melangkah lebih jauh.

    Karir Flick mulai meroket setelah dia mendapatkan ilmu berharga saat mendampingi Pelatih Gaek Italia, Givanni Trapattoni, di Red Bull Salzburg pada 2006. Flick sempat menyatakan mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Mr Trap, sebutan Trapattoni, meskipun tak sepakat dengan pendekatannya yang lebih mengutamakan pertahanan, khas sepak bola Italia.

    Tak sampai semusim di RB Salszburg, Flick mendapat tawaran menjadi Asisten Pelatih Timnas Jerman. Dia pun menjadi salah satu orang kepercayaan Joachim Low, yang saat itu baru menjabat sebagai pelatih Tim Panser.

    Nama Flick semakin berkibar di Timnas Jerman. Dia berhasil ikut mempersembahkan juara ketiga Piala Dunia 2010 dan kemudian menjadi juara Piala Dunia 2014. Dia juga ikut mengantarkan Jerman menjadi runner-up Piala Eropa 2008 dan juara ketiga Piala Eropa 2010.

    Setelah berhasil membawa Timnas Jerman juara Piala Dunia 2014, Flick lantas diangkat menjadi Direktur Olahraga DFB, PSSI-nya Jerman. Posisi itu dia jabat hingga Bayern Munchen menawarinya posisi sebagai asisten Niko Kovac pada awal musim ini.

    Menggantikan Kovac di tengah jalan, Flick sempat mengalami awalan yang tak bagus. Sempat menang pada dua laga pertama kontra Borussia Dortmund dan Dusseldorf, Munchen mengalami dua kekalahan beruntun dari Bayer Leverkusen dan Borussia Monchengladbach.

    Namun setelah dua kekalahan itu Flick mampu menjawab keraguan terhadapnya. Tujuh belas laga tak terkalahkan di semua kompetisi membuat suporter Bayern Munchen kini menggemakan namanya di setiap pertandingan.

    Dia bahkan berhasil mengalahkan rekor para pendahulunya yang lebih memiliki nama sebagai manajer tim sepak bola seperti Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti. Dengan persentase kemenangan mencapai 82 persen saat ini (19 kemenangan dari 23 laga), Flick dianggap sebagai pelatih terhebat Munchen sepanjang masa.

    Catatan itu mengalahkan rekor Pep Guardiola yang hanya memiliki 77 persen kemenangan saat menangani Bayern Munchen selama tiga musim, dari 2013 hingga 2016. Demikian juga dengan Ancelotti yang sempat satu musim menangani Munchen dengan persentase kemenangan 71,6 persen.

    Kini Hans-Dieter Flick pun berada di ambang pemecahan rekor baru. Dia bisa menjadi pelatih sementara pertama di Bayern Munchen yang mempersembahkan gelar juara Bundesliga. Munchen saat ini memuncaki klasemen dengan perolehan 61 angka, unggul empat angka dari pesaing terdekatnya, Borussia Dortmund.

    Langkah Bayern Munchen akan menjadi lebih ringan di sisa musim ini jika Hans-Dieter Flick bisa membawa timnya menang atas rival terberatnya itu pada laga malam nanti. Flick juga bisa memutus rantai kekalahan Munchen di kandang Dortmund dalam dua musim terakhir jika berhasil meraih kemenangan pada laga itu.

    BAVARIAN FOOTBALL| TRANSFERMARKT| DAILY MAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Nyoblos di Saat Pandemi, Pilkada Berlangsung pada 9 Desember 2020

    Setelah tertunda karena wabah Covid-19, KPU, pemerintah, dan DPR memutuskan akan menyelenggarakan Pilkada 2020 pada 9 Desember di tahun sama.