Perkasa di Liga Champions, Benfica Mampu Puncaki Klasemen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Benfica, Nico Gaitan (kanan) merayakan golnya ke gawang Atletico Madrid di ajang Liga Champions grup C di Stadion Vicente Calderon, Madrid, Spanyol, 1 Oktober 2015. Benfica menang tipis 1-2 atas Atletico Madrid. AP/Francisco Seco

    Pemain Benfica, Nico Gaitan (kanan) merayakan golnya ke gawang Atletico Madrid di ajang Liga Champions grup C di Stadion Vicente Calderon, Madrid, Spanyol, 1 Oktober 2015. Benfica menang tipis 1-2 atas Atletico Madrid. AP/Francisco Seco

    TEMPO.CO, Jakarta - Klub Portugal, Benfica, sukses menjadi pemuncak Grup C setelah mengalahkan tim wakil Yunani, Galatasaray, dengan skor 2-1 di Stadion Da Luz, Selasa, 3 November 2015, waktu setempat.

    Raihan 3 poin tersebut membawa Benfica menggeser Atletico Madrid dari puncak klasemen sementara Grup C dengan 9 poin, unggul 2 poin atas klub Spanyol itu.

    Adapun Galatasaray di peringkat ketiga dengan perolehan 4 poin hasil satu kali menang dan satu kali imbang dari empat laga yang telah dimainkan.

    Benfica mengemas keunggulan 1-0 melalui gol perdana Jonas dalam ajang Liga Champions menyusul umpan sundulan yang dilepaskan kapten Benfica, Luisao, pada menit ke-52.

    Namun keunggulan Benfica tidak bertahan lama, karena mantan penyerang Arsenal, Lukas Podolski, menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah mendapatkan bola pendek dari Bilal Kisa pada menit ke-55.

    Luisao membawa Benfica unggul 2-1 setelah memaksimalkan umpan sepak pojok yang dilepaskan Raúl Jiménez pada menit ke-68.

    Benfica harus berjuang dengan sepuluh pemain setelah Gaitan diberi kartumerah akibat melanggar Emre Colak pada menit ke-85.

    Namun keunggulan jumlah pemain yang dimiliki Galatasaray tidak mampu dimaksimalkan, sehingga skor 2-1 kemenangan Benfica bertahan hingga laga usai, seperti dilansir UEFA.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.