Timnas Gagal Juarai Piala AFF, Tagar #AlasanKalah Jadi Tren  

Minggu, 18 Desember 2016 | 00:19 WIB
Timnas Gagal Juarai Piala AFF, Tagar #AlasanKalah Jadi Tren  
Warga menonton bersama pertandingan laga final putaran kedua Piala AFF 2016 antara Tim Nasional Indonesia melawan Thailand dengan menggunakan layar raksasa dikawasan Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Desember 2016. Meski dengan fasilitas seadanya masyarakat tetap antusias memberi dukungan kepada Timnas Sepakbola Indonesia yang sedang berjuang melawan Thailand. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Kekalahan timnas Indonesia dari Thailand di Piala AFF 2016 mengundang reaksi pengguna situs jejaring sosial, salah satunya Twitter. Para netizen beramai-ramai membuat tanda pagar (tagar) #alasankalah, sebagai ajang lucu-lucuan mereka dalam mengungkapkan alasan kegagalan Indonesia menjuarai turnamen dua tahunan itu.

Timnas dikalahkan Thailand dengan skor 2-0 dalam final leg kedua yang berlangsung di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu, 17 Desember 2016. Dengan hasil itu, Thailand menang agregat 3-2 atas Indonesia dan berhak mendapat trofi Piala AFF.

Beberapa netizen memang menulis beberapa alasan logis atas kekalahan timnas, tapi tak sedikit juga dari mereka yang membuat kicauan #alasankalah dengan kalimat-kalimat nyeleneh.

Pemilik akun Twitter Agen Ala Ala salah satunya.


















Tentu saja, Brasil, Jerman, dan Spanyol sampai kapan pun tidak akan pernah menjuarai Piala AFF karena turnamen ini hanya diperuntukkan bagi timnas negara-negara Asia Tenggara.

Ada juga netizen yang menyinggung ulah Abduh Lestaluhu menendang bola ke arah bangku cadangan pemain-pemain Thailand hingga dia diganjar kartu merah. Pemilik akun ini berkata sebaiknya tendangan itu diarahkan kepada Kawin Thamsatchanan, kiper Thailand.

















Adapun pemilik akun @Kinon666 mengatakan kekalahan Indonesia adalah sebuah kesengajaan karena tak ingin mempermalukan Thailand di kandang sendiri.












DESTRIANITA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru